Dirty Kanza 200 Buka Pendaftaran 200 Tempat untuk Perempuan

Salah satu kontributor Bicycling.com, Selena Yeager di Dirty Kanza 200 tahun 2013 (via bicycling.com).

Tahun lalu menandai ajang ke-10 Dirty Kanza 200, lomba balap sepeda offroad yang menyiksa sekaligus menantang kemampuan pesertanya, sejauh 200 mil. Dan meskipun disebut menyiksa, banyak orang yang ingin mengikutinya. Balap offroad yang diadakan di Emporia, Kansas, semakin terkenal dari tahun ke tahun. Namun selama penyelenggaraannya selama 10 tahun itu, pihak panitia mencatat dua hal penting. Pertama, partisipasi perempuan selalu tidak lebih dari 10 persen total peserta. Kedua, peserta perempuan yang mendaftar, dan sampai di finish, waktu tempuhnya tidak jauh berbeda dengan rerata wakt tempuh yang dilakukan oleh para pria.

Minggu ini, Dirty Kanza Promotions merilis pengumuman untuk lomba tahun 2017: Saat pendaftaran dibuka pada 14 Januari 2017, 200 tempat akan disediakan bagi para peserta perempuan. Menurut manajer operasional Dirty Kanza, LeLan Dains, hal itu adalah sebagai wujud persamaan hak. LeLan Dains juga menjalankan proyek “200 Women Riding 200 Miles”.

“Sebagian besar kampanye yang kami lakukan adalah untuk memberi semangat dan mendorong para perempuan agar mereka mau ikut serta bersepeda dan berkompetisi. Ikut dalam ajang Dirty Kanza 200 bukanlah partisipasi yang mudah dan membutuhkan banyak pengorbanan, serta kerja keras untuk bisa sampai di garis finish. Dan itu bukan saja hak eksklusif para pria. Kami ingin agar lebih banyak perempuan juga bisa merasakan dan mengalami pengalaman itu,” ujar LeLan Dains.

Menurut LeLan Dains, perempuan memiliki lebih banyak faktor penghambat yang menyulitkan mereka ikut serta adalam ajang yang membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang luar biasa banyak. Tanggungjawabnya kepada anak-anak di keluarganya, menjadikan perempuan memiliki lebih sedikit waktu untuk berlatih. Perempuan juga dipandang sebelah mata saat menangani masalah mekanis pada sepeda. Untuk ajang jarak jauh seperti DK200 ini, hal itu bisa menjadi faktor penghalang yang mencolok. Untuk itu, pihak penyelenggara mengajak klub sepeda lokal, terutama klub sepeda perempuan, untuk membantu saat ada peserta yang mengalami kesluitan mekanis saat berlomba.

“Tujuan jangka panjangnya adalah untuk menjadikan kegiatan bersepeda menjadi salah satu hal pokok di dalam kegiatan sehari-hari. Saat sepeda sudah menjadi kegiatan rutin, hal itu akan memberikan banyak manfaat di sepanjang kehidupan,” ujar Dains.

(diolah dari www.bicycling.com)