Manakah yang Terbaik, Bersepeda atau Lari?

Jogging dan bersepeda, manakah yang dipilih? (via Courier Mail).

Judul artikel ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering terlontar dari orang-orang yang baru saja memasuki kehidupan berolahraga. Dan tidak ada jawaban yang sederhana yang bisa menjawabnya, karena masing-masing dari olahraga tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Lari memerlukan peralatan yang lebih sederhana, seperti hanya sepatu lari dan menentukan waktu yang cocok untuk berolahraga. Lari juga sangat efisien, dalam hal kebugaran yang diperoleh per lama waktu melakukannya. Namun, bersepeda juga salah satu olahraga yang dapat menjaga kebugaran tubuh dan dengan kayuhan yang lembut, sendi-sendi tidak akan mendapat tekanan yang berat, yang artinya memiliki risiko cedera lebih rendah.

Bersepeda adalah juga cara yang bagus untuk menuju sebuah tempat, artinya sebagai sarana transportasi. Selain bisa menjaga kebugaran tubuh, juga berkontribusi positif bagi lingkungan, karena tidak menimbulkan polusi udara. Dan bersepeda dengan kecepatan yang sesuai dengan keinginan diri sendiri akan membuat perasaan hati lebih bahagia.

Namun penelitian di Amerika Serikat menyatakan bahwa saat intensitas melakukan olahraga itu meningkat, pesepeda menikmati lebih banyak hal positif daripada para pelari.

Dilihat dari sudut pandang ilmiah

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan dari Universitas Negeri Appalachian di North Carolina membandingkan level latihan, termasuk kerusakan otot, nyeri dan radang pada pesepeda dan pelari yang melakukan latihan intensif selama tiga hari.

Dalam penelitian tersebut, 13 pelari jarak jauh dan 22 pesepeda yang terlatih diamati selama kurun waktu 12 minggu.

Selama kurun waktu tersebut, para responden melakukan kegiatan latihan seperti yang biasa mereka lakukan, namun pada minggu kelima, responden dari kedua kelompok yang diteliti berlatih di laboratorium, dengan berlari dan bersepeda statis selama 2,5 jam di 3 hari berturut-turut, yang menunjukkan peningkatan signifikan melebihi volume latihan mereka yang biasanya.

Baik para pelari maupun pesepeda berlatih hingga menggunakan 70 persen dari kemampuan menghirup oksigen total, sampel darah juga diambil sebelum serta sesudah latihan intensif tiga hari tersebut, untuk memeriksa kerusakan otot, peradangan dan daya tahan tubuh.

Pandangan singkat

Saat para ilmuwan membandingkan kedua kelompok tersebut, kelihatan sangat nyata bahwa meskipun peningkatan intensitas latihannya sama persis, otot para pelari seperti terkena ‘pukulan keras’ jika dibandingkan dengan pesepeda.

Tanda rusaknya otot adalah 133 hingga 404 persen lebih tinggi daripada para pesepeda. Peradangan otot juga lebih tinggi 256 persen.

Mengenai daya tahan tubuh, kedua kelompok tersebut sama-sama mengalami penurunan imunitas dalam tingkat yang sama.

Lalu bagaimana?

Jika kita adalah pesepeda, yang juga kadang melakukan jogging atau berlari beberapa kali dalam seminggu, mungkin kita sudah bisa merasakan bahwa kegiatan lari yang terlalu ‘memaksa’ tubuh bekerja keras akan menyebabkan rasa pegal-pegal yang lebih terasa, jika dibandingkan dengan bersepeda.

Apa yang ditunjukkan oleh penelitian tersebut adalah bahwa meskipun dalam intensitas kegiatan yang sedang, lari lebih menyebabkan lebih banyak kerusakan otot daripada bersepeda, sebuah hal yang bisa menjelaskan kenapa para pelari endurance memiliki kaki yang lebih lemah daripada pesepeda endurance, dan itulah kenapa pelari lebih rentan mengalami cedera.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian jika memasukkan kegiatan lari dalam menu latihan mingguan, adalah dengan menjaga waktu kegiatan lari agar tidak terlalu lama, agar tidak banyak terjadi kerusakan otot dan menyebabkan lemahnya kayuhan pada saat bersepeda.

(diolah dari www.cyclingweekly.co.uk)





Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail