Olahraga di Udara Terpolusi Bisa Sebabkan Penyakit Jantung

Image via breatheproject.org.

Penelitian yang dilakukan terhadap 16.000 orang menemukan bahwa berolahraga di udara yang terpolusi dapat menyebabkan gangguan pada paru-paru dan bisa berakibat pada penyakit jantung.

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Rumah Sakit Brussels, yang menemukan bahwa udara yang terpolusi hampir mendekati pembuluh darah di paru-paru, adalah laporan kejadian yang pertama ditemukan; sebelumnya belum ada laporan semacam itu.

Aliran darah di paru-paru (pulmonary haemodynamics) diamati pada 16.295 pasien dalam kurun waktu 2009-2013, dan dihubungkan dengan rerata polusi udara di kota Brussels di waktu tersebut dan di lima dan sepuluh hari terakhir. Sepuluh individu terpisah, laki-laki yang sehat, diperiksa tentang efek dari polutan mesin disel dalam lingkungan yang terkontrol, dengan diberi obat penambah stamina, dobutamin, yang diberikan untuk menstimulasi olahraga.

Kadar PM10 dan PM2.5, yakni jenis partikel yang ditemukan dalam emisi mesin disel, diketahui memperburuk kerja ventrikel kanan jantung, di mana bagian jantung itu berfungsi untuk memompa darah ke seluruh bagian paru-paru.

Dr. Jean-Francois Argacha, dokter dan juga peneliti dalam penelitian tersebut, mengatakan, “Temuan ini adalah permasalahan kesehatan umum yang dialami oleh orang-orang yang tinggal di lingkungan perkotaan yang terpapar polusi udara, di mana jika berolahraga di wilayah tersebut dapat mengganggu kerja paru-paru dan menyebabkan penyakit jantung.”

Terpapar di dalam udara yang terpolusi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan menurunnya efektivitas kemampuan jantung untuk memompa darah ke paru-paru, seperti yang dikatakan Dr. Argacha.

Pada saat beristirahat, paparan emisi mesin disel tidak mempengaruhi sirkulasi pulmonari (darah yang mengalir di dalam paru-paru), namun akan memburuk jika digunakan untuk berkegiatan fisik.

Tentang bagaimana mengurangi risiko tersebut, Dr. Argacha berkata, “Membatasi aktivitas fisik di lingkungan terpolusi adalah kuncinya. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan lama waktu dan intensitas olahraga yang pas agar tidak sampai terkena efek buruk polusi.”

Dr. Argacha juga berpendapat bahwa kebijaka Uni Eropa untuk melindungi warganya dari polusi udara sangat lemah.

“Pengontrolan emisi mesin disel memang terkait dengan kesehatan, namun standard yangditetapkan oleh Uni Eropa sangat berbeda dengan WHO.”

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada EuroEcho Imaging 2016, pertemuan tahunan dari European Association of Cardiovascular Imaging (EACVI).

(diolah dari road.cc).