10 Hal yang Tak Disukai Road Cyclist

Ilustrasi via Steven Vance.

Buat orang-orang yang menyukai sepeda balap, atau bersepeda balap, sebagian besar hal yang mereka bayangkan adalah jalanan aspal yang mulus dan panjang. Para penyuka sepeda balap tampak selalu fokus dengan apa yang ada di depannya, dan sangat menikmati turunan dengan tetap memacu kecepatan. Dengan pakaian yang ketat menempel tubuh, dan penuh rasa bangga saat bisa sampai di puncak tanjakan.

Meskipun hal-hal tersebut memang sangat memanjakan, namun ada beberapa hal yang ternyata, di kenyataannya, jauh dari apa yang sudah bisa dibayangkan dengan indah…..

1. Lubang di jalan; aspal yang menggulung
Lubang di jalan jadi penyebab rasa sebal yang luar biasa. Ban sepeda balap luasan permukaannya kecil, pun tekanannya harus keras. Ditambah lagi dengan banyak lubang di jalan. Mana ada kenikmatan yang didapat di saat seperti itu? Road cyclist yang bersepeda dalam grup atau rombongan biasanya akan saling memberi tanda jika ada lubang di jalan, yang mereka lewati.

2. Burung, atau kupu-kupu yang ‘nakal’
Sedang asyik-asyiknya bersepeda, tiba-tiba saja ada burung atau kupu-kupu yang sekelebat muncul di depan kepala, di depan mata, dalam jarak yang dekat. Kaget? Bisa jadi. Dan refleks kaget yang terlalu berlebihan bisa membahayakan saat sedang asyik bersepeda, apalagi jika sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

3. Genangan air
Penyebab rasa sebal yang lain. Genangan air bisa menipu. Kadang, di dalamnya ada lubang di permukaan jalan yang menganga, namun tertutupi oleh permukaan air itu. Hal lain yang membuat sebal adalah saat bersepeda dalam rombongan. Beruntunglah mereka yang berada di bagian depan rombongan. Sedangkan pesepeda lain yang ada di belakangnya, tentu saja akan mendapat cipratan air dari roda belakang pesepeda yang ada di depannya.

Ilustrasi via Getty Images.

4. Tangan dan kaki yang kesemutan
Oke, mari kita coba jujur. Sarung tangan dengan inovasi yang bagus, serta kaos kaki dengan fitur tertentu khusus untuk pesepeda, apapun itu, masih saja bisa membuat tangan dan kaki kesemutan serta kedinginan. Pemanasan yang cukup serta kembali melakukan bike fitting bisa menjadi solusi.

5. Saling sapa sesama pesepeda
Pesepeda sebaiknya saling menyapa pesepeda yang lain, entah dengan menganggukkan kepala atau melambaikan tangan. Namun apa jadinya jika sedang berada di tanjakan, kemudian ada pesepeda lain, dan harus melambaikan tangan? Tidak harus sih. Mungkin kita bisa membalasnya dengan teriakan jawaban. Tapi, apa jadinya jika kita yang menyapa, namun tak ada balasan sapaan dari pesepeda itu? Sebal kan…

6. Pengendara motor atau mobil yang tiba-tiba ada di samping
Di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat, sudah ada peraturan yang mengatur jarak aman bagi kendaraan bermotor untuk mendahului pesepeda. Jika jaraknya terlalu dekat, bisa jadi si pengemudi akan mendapat tilang dari polisi. Lalu, bagaimana di Indonesia? Bagaimana jika tiba-tiba ada pengendara motor atau mobil yang datang melambat dan agak mepet dengan sepeda yang kita naiki? Apakah mereka sebenarnya ingin bersepeda, namun tidak bisa?

Bersepeda dalam rombongan juga memiliki tata cara tersendiri. Ada kalanya bersepeda berjajar 2-2, kadang juga harus berganti 1-1, alias tidak bersampingan. Tergantung situasi yang terjadi saat itu, tergantung pula dengan lebar jalan yang dilewati atau ramai tidaknya lalu lintas saat itu. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, baik bagi pesepeda itu sendiri maupun bagi pengguna jalan yang lain.

7. Tikungan tajam
Turunan dengan permukaan jalan yang mulus tentu akan menggoda iman agar bisa memacu kecepatan dengan maksimal – dalam batas aman, tentu saja. Namun tiba-tiba saja ada belokan yang tak terlalu kentara.. dan ahh, sudahlah. Jika berhati-hati, tentu saja kita bisa tetap berbelok, meskipun mungkin akan memakan lajur dari arah sebaliknya. Namun jika kurang berhati-hati, tentu saja bisa celaka.

Ilustrasi via Total Womens Cycling.

8. Suara tabrakan
Tabrakan, atau ada pesepeda lain yang terjatuh, tentu akan sangat mengganggu, baik untuk indera pendengaran pun dengan hati yang dag dig dug, dan timbul pertanyaan, apa yang terjadi di belakang?

9. Ban cadangan, tapi kok juga bocor?
Meskipun kita sudah yakin dengan membawa ban dalam cadangan, namun kadang yang luput dari perhatian adalah apakah ban cadangan itu masih dalam kondisi prima, alias masih berfungsi dengan baik. Ban dalam yang terlalu lama disimpan bisa menurun kualitasnya, mungkin saja, jika dipompa hingga tekanan yang semestinya, tak akan kuat dan kembali akan bocor, atau malah pecah.

10. CO2 inflator yang gagal
Setelah ban bocor diatasi, tentu saja harus dipompa. Jika tak menggunakan mini pump, bisa menggunakan CO2 inflator, yang bisa menambah 12 PSI dalam setiap detiknya. Meskipun cepat, namun CO2 inflator hanya bisa digunakan 2 atau 3 kali saja. Bagaimana jika gagal, misal karena pemasangan awal yang tak sempurna, dan kemudian isinya terbuang sia-sia? Maka beruntunglah kamu yang membawa mini pump yang biasa, namun tetap bisa berfungsi dengan baik…..

Ilustrasi via Total Womens Cycling.

(diolah dari totalwomenscycling.com)