Akhir Sedih Alberto Contador di Paris – Nice 2017

Alberto Contador (merah - hitam / Trek - Segafredo) di etape 8 Paris - Nice 2017 (via Getty Images / Tim de Waele).

Saat Alberto Contador hampir mendekati garis finish etape terakhir balap Paris – Nice 2017, semua orang menahan nafasnya untuk melihat kemenangannya. Namun, hal yang tak dikira pun terjadi. Sergio Henao yang pada etape terakhir tersebut berada di luar urutan 5 besar, mampu memperpendek selisih waktunya dengan Alberto Contador. Menurut para pengamat balap sepeda, hal ini adalah persaingan balap sepeda yang sebenarnya…

Alberto Contador (Trek – Segafredo) membutuhkan selisih waktu 23 detik agar bisa tetap berada di peringkat 1 klasifikasi umum Paris – Nice, namun dia terseblip hanya 2 detik saja, sehingga Sergio Henao (Team Sky) bisa mengunggulinya di klasemen umum. Tahun lalu Alberto Contador hanya berselisih 4 detik di belakang juara umum Paris – Nice 2016, namun tahun ini ternyata lebih tragis.

Jika dia bisa memenangkan bonus sprint di Col d’Eze, jika Marc Soler (Movistar) mau berkolaborasi dengannya di break di akhir etape, jika Alberto Contador bisa memenangi etape sprint mendahului David de la Cruz (Quick-Step Floors), dia bisa mendapatkan margin empat detik lebih cepat dari waktu total Sergio Henao, dan tentu saja jika Sergio Henao panik saat menghadapi tekanan persaingan tersebut.

Alberto Contador berkata pada CyclingNews setelah finish, “Di satu sisi, aku sangat gembira, karena untuk melakukannya di etape final, kamu harus bisa melakukannya dengan sekuat tenaga. Semua orang tahu aku akan berusaha keras karena tim mendukungku sejak awal. Lalu kemudian semuanya menjadi terasa lebih berat saat setiap pembalap lain akan memberikan tatapan matanya, ingin mengetahui apakah bisa atau tidak.”

Di sekitar 50 km terakhir, Alberto Contador masih dibuntuti oleh Sergio Henao dan Dan Martin. Namun setelah dua-tiga kelokan, Alberto Contador bisa sedikit melepaskan diri dari kejaran kedua pembalap tersebut. Beberapa saat kemudian, dia sudah bisa mendapatkan tempo kayuhannya sendiri.

Dengan tak ada rekan setim yang membantunya, Alberto Contador memang harus melakukannya seorang diri.

Saat Alberto Contador mencapai Col d”Eze, ada David de la Cruz dan Marc Soler yang ‘menemaninya’. Memang bukan untuk ‘bekerjasama’, namun Marc Soler berhasil menjadi yang pertama mencapai puncak Col d’Eze.

Namun semua harapan Alberto Contador sirna saat menjelang garis finish. Usahanya yang seorang diri tanpa dibantu rekan setimnya tak cukup untuk mengamankan jarak 23 detik yang dibutuhkan untuk tetap berada di peringkat pertama klasemen umum. Tak beberapa lama, Sergio Henao datang bersamaan dengan beberapa pembalap lain. Dan, akhirnya Sergio Henao bisa memangkas jarak 23 detik itu menjadi 21 detik, yang menjadikannya unggul 2 detik di depan Alberto Contador, di klasemen umum.

“Balap sepeda ini adalah sebuah olahraga profesional, dan lagi-lagi aku kalah, hanya berselisih 2 detik saja. Lagi-lagi aku di posisi kedua namun aku senang, karena ini adalah hari bahagianya orang bersepeda. Aku memang diunggulkan untuk bisa memenangkannya, namun itulah olahraga…” ujar Alberto Contador.

Sean Kelly, seorang komentator di Eurosport berkata, “Dengan persaingan yang ketat dan kegigihan Alberto Contador selama seminggu ini, tentu saja kita akan kehilangan suasana ini saat dia memutuskan pensiun nanti.”

(diolah dari www.cyclingnews.com)