Bukan “Bagaimana Cara Memenangi Balapan?” namun “Bagaimana Cara Kalahkan Peter Sagan?”

Ilustrasi via Pinterest.

Setelah selesainya ajang Gent – Wevelgem, Niki Terpstra (Quick – Step Floors)mengungkapkan pendapatnya bahwa para pembalap sepeda kini sepertinya lebih memilih untuk bisa mengalahan Peter Sagan, entah bagaimana caranya, daripada untuk memenangkan ajang balapan itu sendiri.

Juara Paris – Roubaix dari Belanda itu kemudian agak mengendurkan kayuhannya di 16 km terakhir dan membiarkan Jens Keukeleire (Orica – Scott) dan yang akhirnya menjadi juara, Greg van Avermaet (BMC Racing) bersaing untuk menjadi juara.

Direktur tim Bora, saat berada di Wevelgem, sampai-sampai memanjat mobil tim dan menunggu munculnya Peter Sagan. Suatu hal yang jarang terjadi pada Peter Sagan. “Peter memang memimpin dalam rombongan kecil berisi lima pembalap tersebut, namun kemudian berpindah ke belakang, memberikan jarak lagi dengan maksud agar Peter kembali mengejar, namun ini tidak.”

Rombongan kecil tersebut semakin cepat dan seharusnya Peter Sagan mengejar mereka. Setelah menjuarai ajang E3 Harelbeke di hari Jumat lalu, juara Olimpiade Greg van Avermaet menambahkan trofi Gent – Wevelgem ke dalam lemari koleksinya, setelah mengalahkan Jens Keukeleire dengan adu sprint di saat-saat akhir..

Juara dunia Peter Sagan merelakan gelar balap di Belgia itu, yang pernah dia menangkan tahun lalu dan tahun 2013. “Aku benar-benar tidak tahu apa yang dilakukan oleh Niki Terpstra. Dia selalu menempel dan melawan saat breakaway, namun setelah itu dia tak mau menyerang lagi. Ini adalah contoh bahwa kamu bisa saja kehilangan gelar hanya untuk bertarung melawanku.”

Hal yang hampir sama juga terjadi di Italia minggu lalu, saat Julian Alaphilippe (Quick Step) dan Michal Kwiatkowski (Sky) memaksa Peter Sagan untuk bekerja keras. “Adalah hal yang lumrah untuk selalu mengawasi Peter Sagan, karena dia pembalap yang kuat dan selalu jadi perhatian. Dia adalah satu-satunya pembalap yang menjadi standard ‘untuk dikalahkan’.”

“Aku tidak kecewa, namun aku lebih termotivasi,” ujar Peter Sagan. “Jika kamu selalu menang, maka lama kelamaan kamu akan kehilangan motivasi.”

(diolah dari www.velonews.com)