Luke Rowe : Kenapa Balapan Cobbled Classics adalah Balapan yang Gila

Luke Rowe saat di Omloop Het Nieuwsblad 2016 (via Cycling Weekly / Graham Watson).

Saat para cycle enthusiast membahas balapan Spring Classics, jelas kemudian akan terbagi menjadi 2, balapan cobbled Classics akan dimulai lebih dulu, dengan Omloop Het Nieuwsblad dan diakhiri dengan ajang Paris – Roubaix pada 9 April mendatang. Lalu dilanjutkan dengan Ardennes Classics beberapa minggu kemudian.

Balapan Classics memang gila, terlebih lagi yang cobbled Classics. Seperti yang dirasakan oleh rekan satu tim Luke Rowe, Wout Poels, yang berhasil memenangkan ajang Liege – Bastogne – Liege tahun lalu.

Balapan Classics memang spesial; tak ada hari balapan lain selain hanya satu hari itu. Jika kemudian ditanyakan pada para cycling fans, mereka sebagian besar akan menjawab balapan Classics menjadi favorit mereka, karena balapan itu adalah balapan yang wajib ditonton. Jika kemudian diungkpkan dengan satu kata, kata yang paling tepat adalah “GILA”.

Kenapa gila? Karena beberapa ruas jalan yang dilewati dalam balapan itu hanya cukup untuk dilewati sebuah mobil saja, dan karena berupa cobblestone, bagian yang paling halus adalah di tepi jalan, dan tiap pembalap harus melawan pembalap lainnya, dengan jalan yang hanya selebar itu.

Terlebih lagi adalah karena ajang balap classics adalah balapan satu hari, jadi hanya ada satu kali kesempatan untuk menontonnya. Meskipun hanya berlangsung satu hari, namun jika melakukan kesalahan sedikit saja, persiapan beberapa bulan sebelumnya bisa saja sia-sia. Jadi, tiap-tiap pembalap harus bisa efisien dan mampu menjaga dirinya sendiri (meskipun didukung oleh tim mobil) selama balapan sejauh 250 km itu.

Bagi para pembalap sendiri, tak ada yang lebih menyiksa daripada bersepeda melewati jalanan cobblestone. Para penonton yang hanya menyaksikan lewati televisi mungkin tak akan bisa merasakan perjuangan para pembalap itu.

Cycle enthusiast di Belgia (tempat dilangsungkannya Paris – Roubaix) juga patut mendapat acungan jempol. Hasrat mereka untuk menonton balapan tahunan itu memang luar biasa. Mereka bahkan rela tidur di tenda sejak semalam sebelumnya, di pinggiran jalan atau rute yang akan dilewati para pembalap. Mereka menganggap balapan classics itu adalah pesta besar, karena mereka juga mempersiapkan api unggun, barbeque dan bahkan bir, untuk menikmati pertunjukkan setahun sekali itu. Dan para penonton dan suporter itu benar-benar gila…..

(diolah dari www.cyclingweekly.com)