Mana yang Lebih Buruk, Lapar saat Tidur atau Ngemil sebelum Tidur?

Ilustasi via prima.co.uk.

Sebagai seorang pesepeda, dengan gaya hidup yang aktif, pasti kita menginginkan tubuh yang in shape dan selalu bugar. Selain bersepeda, ada baiknya jika juga diimbangi dengan kegiatan olahraga lainnya, seperti jogging atau latihan beban. Lalu, bagaimana dengan sumber tenaga itu, yang notabene berasal dari makanan yang kita konsumsi?

—– —– —– —– —–

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.30, dan kira-kira hanya sekitar 30 menit – 1 jam lagi sebelum kita mulai meletakkan tubuh di atas tempat tidur. Namun, ternyata kita memilih untuk sebentar ngemil kue manis, untuk sedikit mengganjal perut. Jadi, manakah yang lebih buruk, memenuhi ‘hasrat perut’ atau membiarkannya hingga saat sarapan besok pagi?

Sebenarnya setiap orang mempunyai preferensinya masing-masing. Dan penjelasan dari para ahli memang tak bisa diungkapkan dengan mudah, butuh penjelasan panjang…..

Lisa Moskovitz, R.D. menjelaskan alasannya : “Untuk mendapatkan tidur yang optimal, hal yang paling bagus dilakukan adalah menjaga agar jangan sampai terlalu lapar atau terlalu kenyang, dan ‘perasaan’ itu sangat subjektif. Di satu sisi, tidur saat lapar akan mengganggu, karena perut yang terus menggerus tanpa ada isi. Namun jika terlalu kenyang, itu pun akan mengganggu saat tidur. Makan yang terlalu banyak ssesaat menjelang tidur akan menyebabkan masalah pencernaan, seperti kembung, dan kemudian akan membuat tidur tidak nyenyak. Tidur yang kurang akan berakibat pada berat badan yang semakin bertambah, terutama jika camilan di malam hari mengandung banyak kalori.”

“Rasa lapar yang timbul setelah makan malam sebenarnya bukan rasa lapar, melainkan disebabkan oleh rasa bosan atau stres. Cara mengatasinya cukup mudah, salah satunya dengan minum minuman manis, hangat. Namun jika rasa lapar saat malam benar-benar mengganggu, cobalah makan camilan yang minim kalori namun tinggi serat, sehingga akan membuat rasa kenyang yang awet. Makanan yang perlu dihindari saat malam hari adalah makanan tinggi protein dan tinggi lemak,” ujar Lisa Moskovitz.

(diolah dari www.bicycling.com)