Kenapa Sebuah Tim Balap Bisa Sering Memenangkan Balapan – atau Sebaliknya?

Greg van Avermaet dan Daniel Oss merayakan kegembiraan di velodrom Roubaix (via TDWsport.com).

Tim Astana, setelah memasuki bulan keempat di tahun 2017, baru memenangkan etape balapan pertamanya di awal April ini. Ke-18 tim World Tour setidaknya sudah memenangkan satu etape atau satu ajang balap. Lalu, kenapa tim besar bisa sering memenangkan balapan? Atau malah sebaliknya?

Bagi tim Astana, yang bisa disebut sebagai salah satu tim besar, para pembalapnya setidaknya harus menunggu hingga menjelang balapan Grand Tour, atau ada pula pembalapnya yang mengalami cedera. Bagi tim lain, mereka bisa memenangkan banyak etape dengan menanfaatkan momentum di balapan spring classics. Banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan atau ke-belum-berhasil-an sebuah tim dalam memenangi balapan.

Pembalap yang cedera
Pembalap utama Astana asal Italia, Fabio Aru, punya kebiasaan, bagi dirinya sendiri, lambat panas. Contohnya di tahun lalu, saat dia baru bisa memenangi etape balap di minggu ketiga Grand Tour. Dan rencananya, tim akan mendukungnya untuk bisa berprestasi bagus di Giro d’Italia. Namun sayangnya cedera lutut yang dialaminya membatalkan semua rencana tersebut.

Michele Scarponi kemudian didaulat menggantikan posisi Fabio Aru untuk Giro d’Italia, dan dia berhasil memenangi etape pembuka Tour of the Alps di awal minggu yang lalu. Namun tragisnya, setelah selesai ajang balapan tersebut, dia mengalami kecelakaan hebat saat latihan dan meninggal dunia.

Cannondale – Drapac juga baru memenangi satu etape balap. Mereka kehilangan Taylor Phinney dan Sep Vanmarcke karena tabrakan yang dialaminya di beberapa seri spring classics yang lalu. Trek – Segafredo setidaknya telah berhasil memenangi tiga etape balap, namun mereka kehilangan sprinter Giacomo Nizzolo sejak akhir tahun lalu karena masalah tendonitis.

Transfer yang gagal / berhasil
Di musim balap ini, Astana kehilangan salah satu pembalap utamanya, Vincenzo Nibali, yang memilih bergabung dengan tim baru, Bahrain – Merida. Saat Giro d’Italia nanti dimulai, Astana jelas kehilangan banyak kekuatan.

Bora – Hansgrohe, sebaliknya, mampu melakukan investasi yang cemerlang dengan mengontrak Peter Sagan, dan sedikit demi sedikit kini mereka mendapatkan hasilnya. Dari empat kemenangan yang diraih Bora – Hansgrohe musim ini, tiga di antaranya dilakukan oleh Peter Sagan. Tim Jerman itu juga merekrut Leopold Koenig. Namun alih-alih bersiap menghadapi Giro, dia malah berkutat dengan cedera lututnya.

Pembalap yang meningkat dan menurun kemampuannya
Beberapa pembalap kemampuannya meningkat, sementara sebagian yang lain mengalami penurunan, yang disebabkan oleh banyak alasan. Berkat pembalap Italia, Sonny Colbrelli, Bahrain – Merida memperoleh tiga kemenangan. Bagi Sonny Colbrelli, ini adalah musim pertamanya membalap bersama tim World Tour. Balapan yang berhasil dimenangkannya antara lain salah satu etape di Paris – Nice dan Brabantse Pijl dua minggu yang lalu.

Pembalap Norwegia, Alexander Kristoff mencatatkan lima kemenangan di awal tahun 2017. Namun tahun ini lebih buruk baginya, daripada di tahun 2015. Di kurun waktu yang sama (sampai April), pada saat itu Alexander berhasil memenangi 11 etape / balapan. Prestasi Alexander yang menurun juga berdampak pada timnya, Katusha – Alpecin, yang baru mendapatkan enam kemenangan.

Berkah dari para sprinter
Sprinter biasanya mendapatkan jatah hadiah yang paling besar, jadi jika sebuah tim memiliki sprinter yang bagus, maka setidaknya prestasi tim pun akan ikut terangkat. Quick Step memimpin perolehan kemenangan dengan 24 kali, 13 di antaranya dipersembahkan oleh para sprinternya, Marcel Kittel, Fernando Gaviria dan Maximiliano Richeze. Caleb Ewan dan Magnus Cort Nielsen berhasil membawa tujuh kemenangan untuk tim Orica – Scott.

Kadang menggebu-gebu, kadang tidak
Movistar beruntung memiliki Alejandro Valverde, pembalap 36 tahun yang telah memberikan sembilan kemenangan selama musim semi ini, termasuk di dalamnya adalah kemenangan di semua etape di Volta a Catalunya dan Pais Vasco. Empat kemenangan oleh Nairo Quintana menambah jumlah kemenangan bagi tim menjadi 18 kali.

Keadaan yang lebih baik di tahun ini juga dialami oleh Dimension Data. Dalam kurun waktu yang sama, tahun lalu mereka hanya memenangi 5 etape / balapan. Tahun ini, mereka telah mengantongi sembilan kemenangan, dari Mark Cavendish, Edvald Boasson Hagan dan Steve Cummings.

Keberuntungan
Keberuntungan tim dan pembalap bisa berubah seiring berjalannya waktu dan balapan-balapan yang mereka ikuti. Pembalap-pembalap yang menikmati ajang spring classics telah bekerja keras, Philippe Gilbert menyumbang empat kemenangan di beberapa balapan terakhir, sehingga total Quick Step mendapatkan total 24 kemenangan. Greg van Avermaet menyumbang empat kemenangan bagi BMC Racing, sehingga total sudah mendapatkan 19 kemenangan. Berikutnya adalah saat bagi para pembalap Grand Tour untuk menikmati waktu mereka di balapan Ardennes dan Giro d’Italia.

Harapannya, tim Astana semakin meningkat penampilannya, tahun lalu diakhiri di posisi ke-4 dari total 18 tim, dan Mark Cavendish sembuh dari mononukleosis dan membantu Dimension Data merengkuh kemenangan lebih banyak lagi.

(diolah dari www.velonews.com)