‘Raja Turunan’ di Giro d’Italia Mendapat Penolakan dari Pembalap

Para pembalap saat menuruni sebuah turunan di etape ke-19 Giro d'Italia tahun lalu (via TDWSport.com).

Kompetisi ‘Raja Turunan’ yang digagas oleh penyelenggara Giro d’Italia, ASO, mendapat penolakan dari para pembalap yang akan ikut dalam ajang itu. Ide tersebut dianggap konyol dan mengancam keselamatan dari para pembalap itu sendiri. Beberapa dari pembalap bahkan mengungkapkannya dalam akun media sosial mereka.

Berdasarkan buku petunjuk Giro d’Italia, terdapat 10 segmen secara keseluruhan, termasuk turunan dari Passo del Stelvio, dan dalam rencana ‘raja turunan’ itu, pesepeda yang bisa melewati turunan atau segmen dengan waktu tercepat akan mendapat hadiah 500 Euro. Juga dihitung pula poin keseluruhuan dari total 10 segmen turunan itu, di mana di peringkat pertama akan mendapat 5.000 Euro, peringkat kedua 3.000 Euro, dan ketiga 2.000 Euro.

Presiden Federasi Balap Sepeda Belgia, Tom van Damme, menyebut ide tersebut ‘tak bisa diterima akal sehat’ dan dia telah menyarankan agar ide tersebut dibatalkan atau jangan sampai diterapkan pada Giro d’Italia.

Pembalap Trek – Segafredo, Jasper Stuyven, yang akan ikut di Giro d’Italia kali ini, termasuk salah satu yang vokal dengan ide tersebut. Dia menuliskan di Twitternya (jika diartikan) : “Serius? Jika benar, mereka seharusnya malu… Bukankah sudah sering terjadi kecelakaan? Sudah jelas bahwa mereka hanya mencari sensasi.”

Beberapa yang lain mempertanyakan adanya kompetisi semacam itu di balapan yang sudah pernah memakan korban saat di turunan. Wouter Weylandt meninggal saat mengalami kecelakaan hebat di turunan Passo del Bocco, di etape 3 Giro 2011. Ide ini juga muncul hanya beberapa hari setelah kematian Chad Young, yang meninggal saat melewati sebuah turunan di salah satu etape di Tour of the Gila, sekitar dua minggu yang lalu.

(diolah dari www.cyclingnews.com)