5 Alasan Kenapa Giro d’Italia – Tour de France adalah Tantangan Terberat

Nairo Quintana tampak dari belakang (via Tim de Waele).

Keinginan Nairo di awal tahun ini yang ingin menjuarai Giro d’Italia sekaligus Tour de France kini tinggal separuh, setelah Tom Dumoulin berhasil memenangi Giro pada hari Minggu yang lalu.

Pembalap yang bisa memenangi Giro d’Italia dan Tour de France di musim balap yang sama adalah pencapaian yang luar biasa hebat. Hanya ada tujuh pembalap yang ernah melakukannya, dan semuanya menjadi legenda di dunia balap sepeda. Kegagalannya di Giro kali in setidaknya harus membuat Nairo Quintana menunggu setahun lagi.

Pembalap terakhir yang berhasil melakukannya adalah Marco Pantani dari Italia di tahun 1998. Giro d’Italia di tahun ini terbukti lebih prestisius dan lebih menantang, dengan rombongan pembalap yang memiliki strategi yang lebih tertata rapi, dan tim yang ikut serta di Giro tahun ini lebih habis-habisan untuk mendukung pembalapnya bisa menjadi juara. Jarak waktu yang pendek antara dua balapan Grand Tour juga menjadi tantangan tersendiri.

Beberapa percobaan untuk melakukan hal tersebut (juara Giro – Tour) oleh beberapa pembalap telah gagal. Di tahun 2015, Alberto Contador berhasil memenangi Giro, namun seperti kehabisan peluru saat berlaga di Tour de France, dan hanya ada di posisi ke-5. Alberto Contador adalah pembalap terakhir yang berhasil melakukan double, yakni menjuarai Giro d’Italia dan Vuelta a Espana di tahun 2008.

Jadi, kenapa kemenangan di Giro dan Tour de France membuat banyak pembalap merasa tertantang? Berikut alasannya…..

1. Giro yang lebih berat daripada sebelumnya
Giro kali ini berbeda dengan sebelumnya. Salah satu alasan sulitnya melakukan double adalah bahwa etape-etape di Giro kali ini lebih berat daripada yang ada sebelumnya, baik secara fisik maupun mental. Di balapan Giro terdahulu, satu-dua jam pertama biasa diawali dengan ‘balapan’ itu sendiri, lebih banyak pembalap melakukan sprint. Dalam bahasa Italia kemudian muncul istilah “tutto piano”, namun dengan irama kayuhan yang lebih lambat daripada di Tour de France. Dua dekade yang lalu, Giro dianggap satu level di bawah Tour de France, sehingga lebih banyak tim mempersiapkan untuk berlomba di Tour de France. Namun kini semuanya telah berubah. Laju kecepatan sepeda dan kualitas dari tiap etape yang dilalui di Giro telah meningkat, dan pada saat yang bersamaan, nilai gengsi Giro d’Italia pun ikut meningkat. Lebih banyak pembalap yang tertarik untuk menjuarai Giro, dan lebih banyak pula sponsor yang datang. Hal yang tak berubah adalah etape-etape pegunungan yang dilewati di Giro : tetap menyulitkan para pembalap.

2. Waktu recovery yang tak cukup
Salah satu tantangan lain adalah waktu recovery atau pemulihan yang tak terlalu banyak, bahkan mungkin tak cukup. Jeda waktu yang paling baik adalah setidaknya ada satu bulan atau empat minggu antara etape Giro terakhir (ke-21) dengan hari pertama Tour de France. Usaha para pembalap yang mati-matian berjuang di Giro, ditambah lagi dengan jeda waktu yang kurang, artinya para pembalap tak akan bisa berada di kondisi 100 persen pada saat berlaga di Tour de France di bulan Juli. Apalagi jika ditambah dengan balapan ‘pemanasan’, seperti Tour of Slovenia atau Route du Sud. Hari ini, dengan perencanaan tim yang begitu matang untuk menghadapi Grand Tour, tak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun.

3. Puncaknya adalah Tour de France
Tantangan terberat bagi pembalap yang ingin melakukan double adalah menghadapi pembalap yang tak ikut di ajang Giro d’Italia. Meskipun para pembalap bisa terlihat santai setelah selesai mengikuti Giro, namun secara mental atau psikis, dampak dari Giro masih akan terasa hingga di bulan Juli nanti. Dan hal itu pasti akan ‘menampar’ pembalap yang baru saja selesai di Giro, dan tiga minggu kemudian berlaga lagi di Tour de France. Kekompakan tim saat ini diuji, agar tetap bisa menampilkan performa terbaik di dua balapan Grand Tour yang memiliki waktu yang berdekatan.

4. Rombongan pembalap yang lebih rapi
Mungkin bukan sebuah kebetulan jika pembalap yang terakhir berhasil melakukan double terjadi di tahun 90an. Dan banyak hal yang berubah sejak itu. Pembalap-pembalap dalam satu tim lebih tertata dan akan melakukan ‘tugasnya’ masing-masing. Apalagi ditambah dengan strategi tim yang lebih jitu dan lebih beragam daripada sebelumnya. Selain itu juga dengan digunakannya teknologi yang lebih aerodinamis, seperti helm, atau bentuk frame sepeda. Hal-hal detail tersebut membuat tantangan yang ada semakin berat.

5. Giro sama levelnya dengan Tour de France
Untuk kurun waktu yang lama, Giro d’Italia hanya dianggap sebagai ‘balap sepeda di Italia’, sedangkan Tour de France adalah balapan yang paling utama di dunia balap sepeda. Hal itu secara perlahan berubah dalam kurun sepuluh tahun terakhir, di mana penyelenggara Giro berinvestasi besar-besaran untuk membuat Giro lebih berkualitas ‘internasional’. Dengan gengsi yang semakin menanjak, maka tim-tim yang ikut serta pun merespon. Giro bukan lagi satu kelas di bawah Tour de France. Banyak tim yang kemudian melakukan program khusus bagi pembalapnya yang dipersiapkan mengikuti Giro, yang artinya bahwa puncak penampilan balapan bagi mereka adalah di bulan Mei. Saat ini, kita bisa mengetahui peta keinginan para pembalap di akhir musim dingin, apakah mereka akan menargetkan Giro, atau Tour de France.

(diolah dari www.velonews.com)