Posisi Duduk Chris Froome saat di Turunan Tak Se-aero Peter Sagan

Posisi duduk Chris Froome pada saat di turunan (via Cycling Weekly).

Meskipun Tour of California dan Giro d’Italia baru saja rampung, dengan Tom Dumoulin menjadi pemenang Giro, tak ada salahnya kita membahas sedikit tips yang berkaitan dengan balap sepeda…

Berdasarkan penelitian dari Belanda dan Belgia, posisi riding Chris Froome yang tampak aneh ternyata tak terlalu efisien dilihat dari segi aerodinamikanya, tak seperti yang ada di benaknya.

Sekelompok peneliti yang dipimpin Bert Blocken dari Eindhoven University of Technology di Belanda dan Universitas Leuven di Belgia meneliti tingkat ke-aerodinamis-an beragam posisi pada saat bersepeda, terutama pada saat berada di turunan. Beberapa pembalap yang menjadi subjek penelitian adalah Chris Froome, almarhum Marco Pantani, Fabian Cancellara, Peter Sagan, dan dua posisi yang pernah dilakukan oleh Vincenzo Nibali.

Mari kita persempit pembahasannya. Posisi duduk Peter Sagan, duduk di toptube, namun dengan kepala yang tak terlalu maju seperti Chris Froome, memiliki tingkat ke-aerodinamis-an paling tinggi, dengan asumsi bahwa dengan posisi tersebut para pembalap sedang tak mengayuh pedal, ataupun jika mengayuh, dianggap dengan kekuatan kayuhan yang sama.

Berikut ini hasilnya :

Ilustrasi oleh Bert Blocken, Eindhoven University of Technology dan KU Leuven (via road.cc).

Posisi riding yang dilakukan Fabian Cancellara menjadi yang paling tidak aerodinamis, posisi punggung datar yang dilakukan Vincenzo Nibali 8 persen lebih cepat daripada milik Fabian Cancellara. Posisi duduk Chris Froome 9 persen lebih cepat daripada Fabian Cancellara. Posisi duduk kedua yang dilakukan Vincenzo Nibali ternyata 12 persen lebih cepat, sedangkan posisi duduk Marco Pantani, dengan dagu yang hampir menyentuh ujung sadel dan badan ditarik ke belakang, lebih cepat 14 persen.

Posisi duduk Peter Sagan bisa disebut dengan ‘toptube safe position’, dengan duduk di toptube dan dagu di dekat handlebar, yang membuat beban di atas sepeda merata, ternyata 17 persen lebih cepat daripada Fabian Cancellara.

Bagaimana Profesor Blocken bisa mengkalkulasinya?

Pertama, dengan tes di terowongan angin. Dengan memindai beragam posisi duduk para pembalap itu, dan membuat model dengan skala 1 : 4, mereka melakukannya di terowongan angin di Liege.

Tim peneliti menggunakan simulasi computational fluid dynamics (CFD) dengan model resolusi tinggi.

Para peneliti mengakui bahwa mereka bisa menghitung hasil kasar perbandingan antara posisi duduk Peter Sagan dan Chris Froome. Mengambil contoh pada saat di etape ke-8 Tour de France tahun lalu, Peter Sagan bisa lebih cepat hingga 1 menit 8 detik daripada Chris Froome saat melewati turunan Peyresourde. Selain lebih cepat, para penliti juga menyimpulkan bahwa posisi duduk Peter Sagan adalah yang paling stabil dan aman.

Ilustrasi via road.cc.

Menariknya, posisi ‘Superman’ seperti pada gambar di atas dipercaya bisa lebih cepat hingga 24 persen (daripada posisi Fabian Cancellara)…..

Ada yang mau mencoba?

(diolah dari road.cc)