9 Tanjakan Menantang di Giro d’Italia 2017 (1)

Pemandangan malam di Passo dello Stelvio (via roadcyclinguk.com).

Giro d’Italia memang sudah usai seminggu yang lalu, dengan menghasilkan Tom Dumoulin sebagai pemenangnya. Namun tak ada salahnya kita coba melihat kembali sebagian rute yang telah dilewati, terutama dengan rute yang memiliki tanjakan yang menantang.

Siapa yang tak tertantang dengan tanjakan? Sebagian besar dari kita pasti akan berusaha melewati sebuah tanjakan dengan tetap berada di atas sadel dengan modal kayuhan yang kuat. Kalaupun kemudian gagal, alias harus turun dari sepeda, pasti ada rasa ingin kembali menjajalnya lagi, agar bisa mendapat predikat ‘lulus’ di tanjakan tersebut…

Berikut ini adalah tanjakan-tanjakan yang menantang itu…..

1. Etna
Tanjakan besar yang pertama adalah Gunung Etna. Jalur mendaki lereng gunung api yang masih aktif tersebut sepanjang 19 km, yang menjadi pembeda bagi para pembalap yang mengejar juara umum dengan anggota tim lain yang mendukungnya.

Tanjakan di Pulau Sisilia itu menjadi tempat favorit bagi beberapa tim balap untuk melakukan latihan , ditambah lagi dengan tempat yang memang sudah menjadi objek wisata bagi banyak turis.

Kenapa tanjakan di pegunungan yang masih aktif itu menarik banyak pembalap? Rata-rata gradien kemiringannya 6,6 persen, dengan bagian yang paling curam mencapai 12 persen, menjadikan tempat itu tempat yang cocok untuk melatih kekuatan dan ketahanan kaki.

Suasana menjelang garis finish di Gunung Etna (via Sirotti).

2. Blockhaus
Blockhaus adalah tanjakan di mana pertama kalinya Eddy Merckx memenangkan etape Grand Tour, 50 tahun yang lalu, di tahun 1967. Pada balapan tahun 1972, Eddy Merckx bersaing ketat dengan Manuel Fuente di sepanjang tanjakan itu.

Di tahun ini, terjadi kecelakaan yang melibatkan beberapa pembalap, antara lain Adam Yates, Geraint Thomas, Mikel Landa dan Wilco Kelderman, karena penempatan posisi motor pendamping yang buruk.

Menurut beberapa warga setempat, rute mendaki Blockhaus di tahun ini lebih berat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Tanjakan Blockhaus terbagi menjadi dua. Jarak sepanjang 10 km diawali dengan tanjakan yang landai, mendekati separuh jarak, tanjakannya menjadi lebih curam, dan memiliki rata-rata gradien kemiringan 9 persen.

Nairo Quintana saat memenangi etape di Blockhaus (via Sirotti).

3. Oropa
Tanjakan Oropa menjadi ‘sengatan’ yang menyakitkan bagi para pembalap di akhir etape ke-14 di tahun ini, karena hampir 70 persen balapan di etape ke-14 berada di jalan yang relatif datar.

Bagian yang menjadi ciri khas tanjakan Oropa adalah jalan lurus yang terbuat dari cobblestone beberapa ratus meter sebelum sampai di Santuario di Oropa.

Awalnya landai, namun di tengah tanjakan, gradien kemiringannya mencapai 8 persen. Menjaga kebugaran di awal etape dengan jalan yang relatif datar adalah kunci untuk bisa menaklukkan dan mengakhiri tanjakan ini.

Tom Dumoulin (yang akhirnya menjuarai Giro 2017) saat memenangi etape di Oropa (via Sirotti).

4. Mortirolo
Etape ke-16 di Giro yang lalu mungkin menjadi etape yang ditunggu-tunggu, dengan tiga tanjakan yang menantang, salah satunya adalah tanjakan Mortirolo.

Di Giro tahun ini, tanjakan Mortirolo diberi nama Cima Scarponi, sebagai bentuk penghargaan bagi Michele Scarponi, yang meninggal sebelum ajang Giro dimulai.

Lance Armstrong menyebut tanjakan yang paling berat baginya.

Di Giro tahun ini, tanjakan Mortirolo dimulai di Edolo, pertama kalinya sejak tahun 1990, dan ketiga kalinya daerah Mazzo di Valtellina tidak dilewati.

Rute yang digunakan tahun ini adalah yang terpanjang (dibandingkan jalur lain menuju puncak Mortirolo) namun memiliki kemiringan yang paling landai. Berjarak 17,2 km, dengan gradien kemiringan rata-rata 6,7 persen.

Leonardo Sierra (Giro d’Italia 1990) saat melewati Edolo menuju puncak mortirolo (via Sirotti).

—– —– —– —– —–

Tunggu cerita tentang lima tanjakan yang lain di artikel di hari Senin mendatang…..

(diolah dari roadcyclinguk.com)