Pesepeda Komuter Memang Harus Bisa Tepat Waktu

Komuting bersepeda (via Flickr / Dave Atkinson / road.cc).

Karyawan atau pegawai kantoran yang biasa menggunakan bus sebagai sarana transportasi sehari-harinya sepertinya adalah golongan yang sering mengalami keterlambatan tiba di kantornya; setidaknya mepet. Sedangkan pekerja yang mengendarai mobil adalah yang paling tidak bersemangat saat sampai di tempat kerjanya. Kedua pernyataan tersebut adalah hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini. Sangat kontras dengan para pekerja kantoran yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya, mereka adalah yang paling tepat waktu, sekaligus paling bersemangat.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Universitas McGill di Montreal, Kanada. Penelitian dengan judul “On time and ready to go” melibatkan analisis terhadap ketepatan waktu dan rasa bersemangat dari para pesepeda komuter.

Para peneliti melihat pola komuting yang dilakukan oleh para staf, mahasiswa dan karyawan lain di Universitas McGill, total sebanyak 5.599 orang pada tahun 2013.

Partisipan atau responden ditanya tentang bagaimana cara mereka melakukan transportasi (berkomuting) sehari-hari (jalan kaki, bersepeda, mengendarai mobil / motor, atau menggunakan transportasi umum); apakah mereka bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu; serta bagaimana perasaan mereka setelah sampai di tempat yang dituju (kantor / kampus). Jarak tempat tinggal dari kampus, waktu yang ditempuh, dan cuaca selama melakukan komuting, juga masuk dalam analisis penelitian tersebut; dan karena penelitian tersebut di Kanada, maka mengenai cuaca dibagi menjadi dua, hari cerah dan hari bersalju.

CityLab melaporkan bahwa para peneliti menemukan bahwa semakin aktif bentuk komuting yang dilakukan, para karyawan / mahasiswa itu merasa lebih ‘berenergi’ saat tiba di kantor / kampus.

Para pengendara mobil / motor merasa senang (berenergi) sebanyak 17 persen saat turun salju, dan mencapai 41 persen saat hari cerah. Sedangkan mereka yang menggunakan sarana transportasi umum merasa bersemangat 19 persen saat turun salju, dan 38 persen saat hari cerah.

Selisih persentase yang lumayan banyak (dibandingkan dengan para pengemudi mobil dan pengguna transportasi umum) adalah mereka yang berjalan kaki, merasa bersemangat 29 persen saat turun salju dan 55 persen saat cuaca cerah. Para pesepeda malah jauh lebih tinggi persentasenya, rasa semangat mereka mencapai 70 persen saat turun salju dan 82 persen saat cerah.

Yang perlu menjadi catatan adalah para responden yang berjalan kaki sebagian besar adalah para mahasiswa yang mayoritas berusia muda, sedangkan yang mengendarai mobil / motor adalah para pegawai universitas. Sedangkan para pesepeda dan yang menggunakan transportasi umum adalah campuran antara mahasiswa dan juga sebagian pegawai universitas.

Cuaca yang bersalju mempengaruhi para responden dari semua kategori. 32 persen pesepeda menyatakan mereka akan lebih sering terlambat saat turun salju, hal yang sama diungkapkan oleh 34 persen pejalan kaki, 41 persen pengendara mobil / motor dan 42 persen pengguna kendaraan umum.

Para peneliti menyimpulkan, “Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti bahwa kepuasan dengan berbagai moda transportasi harian akan terkait dengan rasa semangat yang mereka miliki saat sampai di tempat kerja. Dengan hasil yang diperoleh, para pembuat kebijakan sebaiknya mempertimbangkan membuat strategi pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan rasa kepuasan para komuter. Meningkatkan dan membiasakan untuk berkomuting dengan sepeda juga akan meningkatkan rasa semangat saat sampai di kantor ataupun kampus.”