Tips : Apakah Puasa bisa Membuat Kayuhan Semakin Cepat?

Dehidrasi jadi masalah yang menanti saat melakukan puasa (via www.bicycling.com).

Bagi pesepeda yang memiliki keluhan atau masalah dengan berat badan, biasanya hal itu tak akan terkait dengan sepedanya. Itu karena makanan. Beberapa pesepeda mencoba membatasi dirinya sendiri dengan mengontrol makanan yang dimakan, setiap harinya, namun kadang tak bisa dilakukan secara kontinyu. Ya, hal itu bisa dipahami. Merasa tertekan dan terkekang (karena tak bisa makan secara bebas) memang bisa membuat bosan dan frustasi. Dan karena psikologis yang memburuk juga akan berdampak buruk pada program diet yang dilakukan. Hal itulah yang membuat sebagian orang, termasuk pesepeda, yang mencoba cara alternatif untuk makan, dengan melakukan selang-seling, sehari makan dan sehari ‘tidak’ makan, sehingga proses pembatasan konsumsi makanan lebih mudah dilakukan daripada sebelumnya, yang secara tidak langsung juga akan berdampak pada berat badan.

Praktek tersebut biasa dikenal dengan istilah puasa alternatif atau intermittent fasting (istilah medisnya ‘makan dengan interval’). Pada beberapa hari, kita hanya mengkonsumsi makanan sebanyak 500 kkal saja (biasanya dilakukan untuk makan siang), dan di beberapa hari yang lain kita bisa makan seperti biasanya. Dalam kebiasaan muslim, mungkin hampir mirip dengan ‘puasa Daud’, yang melakukan puasa secara selang-seling. Ide pembatasan makanan secara selang-seling itu telah menjadi pembicaraan di kalangan medis selama beberapa tahun, yang sebagian besar menganggap hal tersebut lebih mudah dilakukan daripada harus benar-benar menghitung dan membatasi banyaknya kalori yang dimakan setiap harinya.

Seperti layaknya puasa yang biasa dilakukan, tidak makan dalam kurun waktu tertentu dalam sehari; jika intermittent fasting itu dilakukan dengan benar, dampaknya tak hanya akan berpengaruh pada berat badan, namun juga bagi kesehatan tubuh secara umum. Krista Varady, Ph.D., dari Universitas Illinois di Chicago dan pengarang buku The Every Other Day Diet mengatakan, “Penelitian kami menemukan bahwa dengan pola puasa seperti itu dapat menurunkan tekanan darah hingga 10 persen dari biasanya dan menurunkan kolesterol LDL hingga 10 sampai 25 persen, dan secara signifikan menurunkan gejala radang yang terkait dengan penyakit jantung. Responden yang terlibat dalam penelitian ini juga turun berat badannya antara 10 hingga 30 pounds (sekitar 5 – 15 kg) dalam 8 hingga 12 minggu.” Penelitian lain yang terkait juga menemukan bahwa pola puasa seperti itu dapat mencegah timbulnya penyakit diabetes.

Dalam penelitian tahun 2010 yang dipublikasikan dalam Journal of Science and Medicine in Sport, menemukan bahwa responden yang melakukan latihan bersepeda di pagi hari, setelah 12 jam sebelumnya (semalaman) tidak mengkonsumsi makanan apapun, selama lima hari dalam seminggu dan dilakukan selama satu bulan, memiliki peningkatan dalam kemampuan penggunaan oksigen di dalam tubuhnya dan memiliki penyimpanan energi yang lebih baik daripada para responden yang makan sebelum melakukan latihan sepeda. Para responden yang melakukan puasa juga mengalami peningkatan kemampuan VO2max sebanyak 10 persen, dibandingkan hanya 2,5 persen oleh responden yang normal. Penelitian tersebut dilakukan kepada orang-orang dewasa yang tidak mempunyai kebiasaan dan rutinitas bersepeda dalam kehidupan sehari-harinya. Penelitian yang dilakukan terhadap pesepeda profesional menunjukkan bahwa saat mereka bersepeda dalam kondisi setelah berpuasa, mereka mengalami penurunan berat badan dan sensitivitas insulinnya meningkat, tanpa mengganggu kemampuan endurance-nya.

Bagaimana bisa melakukannya? Caranya dengan menyelipkannya dalam rutinitas bersepeda yang dilakukan. Pesepeda biasanya selalu bersepeda dalam tiga hingga lima hari dalam satu minggu. Pada saat jadwalnya bersepeda, kita bebas makan apa saja, atau setidaknya makan seperti biasanya, dan pada saat bukan jadwalnya untuk bersepeda, kita berpuasa atau membatasi jatah makan. “Jika berencana untuk bersepeda di hari puasa, setidaknya dalam sehari itu mengkonsumsi makanan sebanyak 500 kkal, dan sisanya digantikan dengan konsumsi air minum yang lebih banyak,” ujar Krista Varady.

“Mungkin dibutuhkan sekitar 5 hingga 6 hari untuk membiasakan diri dengan berpuasa semacam itu. Keluhan yang awalnya biasa dirasakan adalah merasa pusing dan lebih moody, yang menurut Krista disebabkan oleh dehidrasi alias kurang asupan cairan. “Pada umumnya orang lupa seberapa banyak cairan yang diperolehnya dari makanan yang dimakan…” ujarnya.

Jadi, selama bulan puasa ini masih tetap mau rutin bersepeda ‘kan?

(diolah dari www.bicycling.com)