9 Tanjakan Menantang di Giro d’Italia 2017 (2)

Jalanan hairpin di Stelvio (via Damian Morrys / Flickr).

Setelah sebelumnya sudah diceritakan empat tanjakan menantang di Giro, kali ini adalah sisa lima tanjakan yang belum menjadi cerita menarik tentang Giro tahun ini…..

5. Stelvio
Tahun ini adalah yang ke-11 kalinya Passo dello Stelvio menjadi bagian rute yang dilewati, dan tak perlu diragukan lagi bahwa tanjakan itu adalah yang paling ikonik.

Fausto Coppi adalah pembalap pertama yang berhasil mencapai puncak tanjakan Stelvio saat dilewati pertama kali di Giro tahun 1953, dan di Giro tahun ini, puncaknya dinamai Cima Coppi, tempat yang paling tinggi dari seluruh tempat yang dilewati rute Giro tahun ini.

Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri, ditambah lagi dengan banyaknya tikungan hairpin di sepanjang rute, menjadikannya salah satu yang terberat.

Dengan jarak total 21,7 km, gradien kemiringan rata-rata 7,1 persen, bahkan di beberapa bagian sampai 12 persen, menjadikannya tanjakan yang disukai oleh para pembalap.

6. Umbrail Pass
Umbrail Pass adalah salah satu rute alternatif untuk menuju Passo dello Stelvio atau puncak Stelvio. Tanjakan ini adalah tanjakan ketiga di etape ke-16, dan tahun ini adalah kali pertama rute Giro melewati Umbrail Pass.

Jalan menuju puncak baru diaspal dua tahun lalu, mendekati puncak Swiss road (perbatasan Swiss – Italia) jalanannya masih berupa cobblestone. Titik tertingginya mencapai 2.501 meter di atas permukaan laut.

Tanjakan sepanjang 13,5 km dengan pemandangan yang lebih indah dan lebih alami, namun diimbangi dengan gradien kemiringan yang mencapai 8,4 persen. Pada beberapa lokasi, kemiringannya mencapai dua kali gradien kemiringan rata-rata, yaitu hampir 16 persen.

Foto via Zairon / Wiki Commons.

7. Passo Pordoi
Passo Pordoi adalah tanjakan di pegunungan Dolomites sepanjang 11,8 km dengan pemandangan latar belakang pegunungan berbatu.

Tanjakan di Passo Pordoi tergolong lebih landai daripada tanjakan lain di pegunungan Alpen, rata-rata gradien kemiringannya adalah 6,8 persen dan yang paling terjal mencapai 9 persen.

Namun di sepanjang jalan terdapat banyak tikungan hairpin tajam yang biasa dilalui saat tur sepeda lokal Maratona d’les Dolomites.

Foto via Sirotti.

8. Pontives
Pontives adalah tanjakan terakhir di etape ke-18 Giro tahun ini. Gradien kemiringannya progresif alias emakin lama semakin berat dan menanjak, empat persen, enam, sembilan dan 13 persen. Bagian yang paling terjal sepertinya cocok bagi pembalap yang bertipe climber. Bukan hanya itu, di jarak beberapa kilometer menjelang finish di puncak tanjakan, jalannya berubah dari aspal menjadi cobblestone sepanjang 500 meter. Tanjakan ini memang menawarkan banyak hal yang menarik.

Ivan Basso (jersey pink) saat melewati Pontives (via Sirotti).

9. Monte Grappa
Tanjakan terakhir di Giro d’Italia 2017 adalah Monte Grappa, tanjakan di mana Nairo Quintana memenangi mountain time trial di Giro 2014.

Tanjakan sepanjang 24 km, namun landai, dengan gradien kemiringan rata-rata 5,3 persen.

Data statistik mengungkapkan sulitnya melewati tanjakan ini, dengan bagian paling curam di awal dan di akhir tanjakan, 11 persen di awal tanjakan dan 9 persen di 500 meter menjelang garis finish.

Menemukan ritme kayuhan untuk menanjak agak sulit dilakukan di tanjakan ini, terutama mendekati puncak. Di beberapa bagian tanjakan, gradien kemiringan mencapai 8 persen, ditambah lagi dengan beberapa kali jalanan menuruni bukit alias downhill.

Nairo Quintana saat melewati Monte Grappa di 2014 (via Sirotti).

(diolah dari roadcyclinguk.com)