Komuter atau Balap Sepeda? Sepeda adalah Identitas Diri

Ilustrasi via road.cc.

Jika kita merasa sedih atau kecewa saat sepeda yang biasa kita naiki ada sesuatu yang rusak, pasti ada alasan yang bisa menjelaskannya. Sebuah penelitian terbaru mencoba mengungkapnya.

Sebuah sepeda sering menjadi identitas bagi pengendaranya, berdasarkan penelitian yang dilakukan di Universitas Alberta.

Karly Coleman, seorang pesepeda, menulis thesis untuk gelar master-nya mengenai hubungan antara identitas seorang pesepeda dengan sepeda yang dipakainya, menemukan bahwa perasaan saling terikat itu seperti pada contoh pengendara mobil VW atau pengendara BMW. Demikian pula dengan pesepeda, mereka ingin dianggap sebagai pembalap (atau road race enthusiast) atau seorang pesepeda komuter.

Disampaikan pada Edmonton Journal, Karly mengatakan. “seorang penunggang mobil Ferrari pasti memiliki tipikal tertentu, demikian juga dengan penyuka mobil VW, mereka memiliki ciri khasnya masing-masing, dan mungkin ciri khas tersebut akan sangat jauh berbeda, dan tak akan mungkin mereka akan nongkrong di kafe yang sama.”

“Hal yang sama juga terjadi pada pesepeda. Pesepeda yang merasa dirinya menyukai balap sepeda (dan selalu ingin merasakan atmosfer kompetitif) dan pesepeda komuter. Dua golongan tersebut tak akan mungkin bergabung dalam satu tempat; mungkin akan sangat jarang.”

Karly menambahkan, “Aku tumbuh di Saskatchewan utara, di mana sebagian besar orang lebih tertarik dengan dunia otomotif.”

“Jadi, saat berumur 16 tahun, aku mendapatkan mobil pertamaku, dan cukup keren pada saat itu. Tempat tinggalku berjarak 4,5 mil (sekitar 6 – 7 km) dari pusat kota, dan tak ada orang yang berpikir bahwa jarak tersebut akan bisa ditempuh dengan sepeda.”

Di Edmonton, Kanada, di mana Karly menjalani studinya, budaya masyarakatnya jauh berbeda dari tempat tinggalnya. Edmonton menawarkan budaya bersepeda, dan sebagian besar orang sangat antusias. Hal itu membuatnya semakin tertarik mendalami studinya.

“Saat hampir semua orang memandang remeh sepeda sebagai alat transportasi, dan kamu tinggal di kota yang sangat tak ramah terhadap pesepeda…” ujarnya. “Namun paradigma masyarakat mulai berubah.”

“Infrastruktur sepeda di beberapa tempat mulai dibangun, karena orang-orang membicarakannya dan membandingkannya dengan kota lain (yang punya budaya bersepeda),” ujarnya.

“Saat ada seseorang yang menggunakan fasilitas yang sudah disediakan, akan muncul antusiasme dari orang-orang yang melihatnya. Lalu akan muncul niatan, ‘Oke, aku akan mencobanya, mencoba menikmati jalanan dengan bersepeda’, dan itu adalah hal yang bagus,” ujarnya mengakhiri percakapan.

(diolah dari road.cc)