Fakta Menarik saat Sprint

Ilustrasi via Bicycling.com / Getty.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa ombak yang besar akan membuat laju perahu semakin kencang. Secara analogi, hal yang sama juga terjadi pada tubuh kita saat kita mengayuh pedal dengan kecepatan tinggi atau saat melakukan sprint. Menurut Paul Larsen, Ph.D. dari laboratorium online PlewsandProf.com, saat melakukan sprint, sistem energi di dalam tubuh membuncah, memaksa tubuh untuk bisa segera bugar dengan cepat, dan akan lebih baik lagi jika mau melakukannya secara reguler atau rutin.

Sprint membutuhkan usaha yang keras dari tubuh kita, yang kemudian akan diikuti ketidaknyamanan seperti pegal-pegal dan nyeri, namun jika kamu bisa melakukannya dengan konsisten, dan diimbangi dengan masa recovery yang cukup, hal itu akan sangat berguna saat melakukan kegiatan endurance dengan intensitas tinggi,” ujar Paul Larsen.

Berikut ini hal yang terjadi di dalam tubuh pada tingkat metabolisme…..

• Tubuh bekerja secara anaerobik
Setiap kayuhan pedal membutuhkan ATP – molekul berenergi tinggi yang memberikan tenaga di setiap yang yang kita lakukan. Selama bersepeda, tubuh menghasilkan ATP dengan mengolah lemak dengan oksigen yang terjadi di dalam mitokondria di dalam sel. Saat intensitas kayuhan meningkat dan otot-otot embutuhkan energi lebih banyak lagi, sistem metabolisme beralih ke jalur karbohidrat, energi akan diambil dari glikogen (karbohidrat yang tersimpan di dalam tubuh) dengan proses glikolisis. Proses tersebut menghasilkan asam piruvat yang kemudian dibawa ke mitokondria untuk menghasilkan energi secara anaerobik.

Jika latihan tersebut bisa dilakukan secara rutin, tubuh akan melakukan adaptasinya sendiri. Sehingga saat nantinya digunakan untuk berlomba, tubuh sudah benar-benar siap dan sudah teradaptasi.

• Detak jantung meningkat cepat
Jika memakai heart rate monitor, kita bisa menantau bahwa detak jantung akan meninggi saat kita melakukan sprint. Tekanan darah sistolik – angka yang disebut pertama di pengukuran tekanan darah – bisa jadi akan meningkat hingga lebih dari 200 mmHg pada saat sprint. Sesaat setelah selesai sprint tekanan darah dan detak jantung akan segera menurun dengan sendirinya. Kira-kira 30 detik setelah sprint, tekanan darah akan turun 50-60 persen dari saat maksimal. “Jika melakukan latihan 30 detik sprint dan 30 detik recovery, tekanan darah akan tetap tinggi. Itulah kenapa latihan interval singkat bagus untuk meningkatkan kebugaran,” ujar Paul Larsen.

• Tubuh membangun lebih banyak otot
Terbiasa melakukan sprint akan membuat otot-otot tubuh lebih kuat. Penelitian menunjukkan bahwa latihan sprint dengan intensitas tinggi membutuhkan kerja keras dari serat-serat otot, meningkatkan kadar testosteron dan dihidrotestosteron, serta menstimulasi protein pembentuk otot.

Ilustrasi via Bicycling.com / Westend.

• Tubuh membuat lebih banyak mitokondria
Saat sprint, tubuh kita memberikan pesan pada otot bahwa saat itu membutuhkan banyak energi. Hal itu akan memacu biogenesis mitokondria – istilah sains untuk stimulasi pembentukan lebih banyak mitokondria di dalam sel otot. Lebih banyak mitokondria akan menghasilkan lebih banyak energi yang akan digunakan tubuh untuk bekerja keras.

Ilustrasi via Bicycling.com / Wirdman.

• Lemak terbakar dengan cepat
Tubuh mungkin tak membutuhkan energi yang terlalu banyak dari proses aerobik pada saat sprint, namun pada saat memulai sprint, penggunaan oksigen dan pembakaran lemak meningkat drastis. Pada salah satu penelitian, saat pesepeda melakukan sesi empat kali 30 detik sprint, oksidasi lemak yang terjadi lebih banyak 75 persen daripada saat dua jam setelah selesai sesi sprint singkat itu. Lebih jauh lagi, latihan sprint akan membakar lebih banyak lemak saat melakukan aktivitas dengan intensitas tinggi. Paul Larsen menemukan bahwa para pelari yang lebih sering melakukan latihan mampu membakar lemak tiga kali lebih banyak daripada sesama pelari yang sama-sama bugar namun jarang melakukan latihan.Itu berarti bahwa mereka mampu menghasilkan lebih banyak energi dan mampu berlari lebih kuat atau lebih jauh.

Ilustrasi via Bicycling.com / ShotShare.

(diolah dari www.bicycling.com)