Dylan Groenewegen Menangi Etape Terakhir, Chris Froome Juarai Tour de France Empat Kali

Persaingan ketat menjelang finish di Paris (Foto via Dion Kerckhoffs / Cor Vos)

Sprinter asal Belanda, Dylan Groenewegen (LottoNL – Jumbo), berhasil meraih kemenangan etape pertama di dalam karirnya di ajang Tour de France di hari Minggu yang lalu, saat etape final di Champs-Elysees, Paris, mengalahkan Andre Greipel (Lotto – Soudal) dan Edvald Boasson Hagen (Dimension Data) dengan kemenangan yang sangat tipis.

Sebagai mantan juara nasional Belanda, Dylan Groenewegen (24 tahun), memenangi etape final itu dengan cara yang epik. Bersaing ketat dengan Rick Zabel (Katusha – Alpecin) dan Alexander Kristoff, dan dengan jarak yang hanya tinggal 205 meter, bahkan di 50 meter terakhir dia ngotot beradu dengan Andre Greipel, dan akhirnya berhasil menyentuh garis finish lebih dulu.

“Tempat ini adalah tempat yang luar biasa bagi para sprinter,” ujar Dylan dengan penuh antusias. “Memenangi etape di Champs-Elysees membuat hariku jadi sempurna. Tim kami hanya terdiri dari lima orang pembalap, namun kami menuntaskannya dengan cara yang terbaik. Teman-teman bekerja keras dan membuatku bisa meraih kemenangan ini. Ini adalah kemenangan pertamaku di ajang Tour de France. Saat aku masih kecil, aku hanya bisa melihat dari layar televisi. Sekarang, aku bisa memenanginya.”

Chris Froome (Team Sky) melewati garis finish dengan selisih waktu yang aman dan membuatnya menjadi pemenang Tour de France tahun ini (empat kali juara dalam lima tahun terakhir), 54 detik di depan Rigoberto Uran (Cannondale – Drapac) dan 2 menit 20 detik di depan Romain Bardet (AG2R La Mondiale). Kemenangan Chris Froome ini membuat Team Sky berhasil memenangi Tour de France ke-5 kalinya dalam enam tahun terakhir.

“Perasaan yang sangat luar biasa,” ujar Chris Froome. “Etape di Champs-Elysees tak pernah mengecewakan. Ada sesuatu hal magis yang membuatmu selalu terpikirkan akan etape terakhir, setelah tiga minggu melewati berbagai daerah di Prancis. Setelah ini, aku bisa kembali bertemu dengan istri dan anak-anakku. Ada perasaan unik yang muncul setiap kali berhasil memenangi sebuah kejuaraan, apalagi kali ini adalah Tour de France. Setiap kemenangan yang kudapat selalu spesial. Adalah sebuah kebanggan bisa disandingkan dengan nama-nama besar yang lain, seperti Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault dan Miguel Indurain.”

Rigoberto Uran pun merasa puas bisa finish di belakang empat kali juara Tour de France.

“Bisa finish di belakang Chris Froome dengan selisih kurang dari satu menit sangat memuaskan buatku,” ujar Uran. “Kami merasa memang sangat sulit untuk bisa memenangi Tour de France, tapi itu bukanlah suatu hal yang tidak mungkin. Jadi kami mengerahkan kemampuan terbaik kami. Ini adalah kesuksesan terbesar di karirku.”

Pembalap Australia, Michael Matthews (Sunweb), juga berada di podium di Paris, sebagai orang Australia ketiga yang berhasil mendapatkan gelar jersey hijau.

“Aku punya kesempatan untuk meraih jersey hijau, dan akhirnya bisa kuraih dengan ‘kedua tanganku’,” ujar Michael Matthews. “Tahun depan akan ada target yang lebih tinggi, namun saat ini aku sangat puas dengan raihan gelar jersey hijau ini. Tom Dumoulin meraih jersey pink (di Giro d’Italia), Warren Barguil meraih jersey polka-dot, dan aku mendapatkan jersey hijau, tiga gelar jersey dalam satu musim adalah hal yang membanggakan bagi tim.”

Rekan setimnya, Warren Barguil, mendapatkan penghargaan King of Mountains serta Penghargaan Super Combativity atas usahanya yang selalu gigih dalam tiga minggu penyelenggaraan Tour.

Simon Yates (Orica – Scott) mendapatkan penghargaan pembalap muda terbaik di Tour de France kali ini, setelah saudara kembarnya, Adam Yates, juga berhasil meraihnya tahun lalu.

(diolah dari cyclingtips.com)