Dominasi Shimano di Tour de France 2017

Bartape warna kuning PRO Stealth (via road.cc).

Sebuah kesuksesan lagi bagi Shimano di Tour de France kali ini, produsen komponen asal Jepang itu berhasil membawa Chris Froome (Team Sky) memenangi Tour keempatnya. Lebih jauh lagi, ternyata Shimano berhasil ‘memenangi’ setiap etape dan meraih semua penghargaan jersey.

Dominasi Shimano juga didukung fakta bahwa merek tersebut menjadi sponsor bagi lebih banyak tim yang berlaga di Tour de France kali ini, dibandingkan dengan Campagnolo dan SRAM. Dari 22 tim yang berlaga, 17 di antaranya menggunakan komponen Shimano Dura Ace Di-2, tiga tim menggunakan Campagnolo, dan SRAM hanya dipakai oleh dua tim.

Shimano tidak menjadi sponsor bagi ke-17 tim itu. Beberapa tim memilih menggunakan Shimano untuk dipasang di sepedanya, namun Shimano juga menawarkan kemudahan bagi tim yang menggunakan komponen Shimano. Secara resmi, Shimano menjadi sponsor tim Francaise Des Jeux, Trek – Segafredo, LottoNL – Jumbo, Team Sunweb, Orica – Scott, BMC Racing, Bora – Hansgrohe dan Team Sky – 11 kemenangan etape didapat dari tim-tim tersebut.

Dura Ace R9150 Di-2 menjadi pilihan utama para pembalap, dengan perkecualian Marcel Kittel, yang memenangi lima etape menggunakan rem hidrolik Dura Ace R9170.

Disc brakes adalah sebuah lompatan teknologi yang sangat bagus. Apalagi pada saat basah, membuat pengereman lebih pakem,” komentar Marcel Kittel tentang penggunaan disc brakes.

Chris Froome menggunakan R9150 Di-2, dan selama beberapa tahun terakhir, Shimano juga menciptakan wheelsetnya sendiri. Pinarello Dogma F10 yang dipakainya juga dilengkapi dengan wheelset Dura Ace, handlebar dan bar tape dari PRO Stealth.

Shimano juga telah mengembangkan power meter (bagi Shimano, ini adalah yang pertama) untuk melengkapi groupset Dura Ace-nya. Warren Barguil menggunakan power meter ini dan berhasil meraih penghargaan jersey polka-dot.

“Data yang dihasilkannya sangat bagus dan konsisten. Sangat mudah digunakan dan tak ada bobot tambahan bagi sepeda,” ujarnya mengomentari power meter Shimano itu.

Dominasi Shimano yang merangkak naik
Memang ‘perjuangan’ Shimano tak terlihat mudah. Ada sebuah masa di mana Shimano memutuskan untuk masuk ke dunia balap sepeda, di mana saat itu pilihan yang ‘serius’ hanya ada Campagnolo. Pabrikan asal Italia itu sangat mendominasi dunia balap sepeda di masa itu. Namun posisi Campagnolo yang kokoh sedikit demi sedikit tergerus oleh inovasi yang selalu dilakukan oleh Shimano.

Perubahan terjadi di tahun 1973, saat Shimano merilis groupset Dura Ace versi pertamanya. Sedikit demi sedikit, tim-tim balap mulai menggunakan Shimano, ditambah dengan kerjasama sponsor yang menarik. Tak hanya mendominasi dunia balap sepeda profesional, Shimano juga berhasil merambah pasar masyarakat cycle enthusiast dengan harganya yang terjangkau.

Filosofi Shimano adalah : “Setiap komponen harus berfungsi dan bekerja sama secara terintegrasi menjadi sebuah sistem yang meningkatkan performa sepeda secara keseluruhan”, dan hal itu masih juga terkait dengan groupset yang terbaru, yang didesain sebagai sistem yang komplet.

SRAM mulai ‘bergabung’ di dunia balap sepeda sejak tahun 2006, setelah sebelumnya lebih terfokus pada mountain bike, dan dengan cepat bisa beradaptasi dengan dunia balap sepeda profesional. Pada tahun 2010, ada delapan tim yang menggunakan groupset SRAM, namun di tahun ini hanya ada dua tim yang menggunakannya.

Saat SRAM banyak ambil bagian di Tour de France 2010, tahun itu juga menandai keluarnya Dura Ace Di-2, teknologi elektronik yang digunakan dalam groupset Shimano. Meskpiun awalnya banyak orang menganggap skeptis, namun kenyataannya kini penggunaannya mendominasi di banyak tim.

Tak ada yang bisa menjamin ‘kesuksesan’ Shimano di masa depan. Dengan SRAM yang muncul di 2010, dan kini hanya dipakai oleh dua tim, tak ada yang tahu tren balap sepeda di masa yang akan datang.

(diolah dari road.cc)