Saat di Turunan? Para Pembalap Tour de France Mungkin Memang Gila

Posisi menunduk dan merendahkan badan pada saat di turunan (via Getty Images).

Ajang Tour de France selalu ‘dilengkapi’ dengan etape-etape pegunungan. Saat para pembalap melewati etape tersebut, saat di turunan, kadang akan terlihat posisi-posisi duduk yang aneh dan tak biasanya, karena mereka ingin mendapatkan momentum kecepatan yang maksimal secara ‘gratis’. Berikut ini ada beberapa pendapat dari para ilmuwan ahli aerodinamika tentang posisi aneh para pembalap itu, dan sedikit tips agar, kita, orang awam atau pesepeda biasa, bisa (mungkin) meniru polah tingkah mereka dengan aman…..

“(bentuk) silinder, itulah yang memperlambat gerakmu,” ujar Ingmar Jungnickel, teknisi aerodinamika dari Specialized Bicycles. “Bike fitting lebih sering terfokus pada punggung pembalap, namun apa yang kita pelajari dari terowongan angin adalah bahwa posisi kaki mempengaruhi 50 persen hambatan angin.”

‘Penjelajahan’ untuk meminimalisasi hambatan dari bagian-bagian tubuh yang berbentuk silinder, kaki, lengan dan kepala, telah membuat para pesepeda pro dan elit untuk berasumsi berbagai macam posisi duduk yang paling aerodinamis, yang kadang memang terlihat aneh, seperti yang dilakukan Chris Froome dengan duduk di toptube di etape 8 Tour de France tahun lalu.

Chris Yu, direktur teknologi Specialized mengatakan, “Kaki adalah bagian yang tampak menghambat (angin), meskipun badan sudah berada pada posisi yang rendah dan mendekat dengan sumbu utama sepeda (toptube). Idenya memang dengan duduk di toptube akan mengurangi banyak gesekan dengan angin. Namun tetap saja bagian kaki memiliki hambatan yang paling besar.”

Asumsikan saja bahwa posisi duduk yang dilakukan Chris Froome itu adalah yang paling cepat, paling aerodinamis. Namun ternyata diketahui bahwa posisi tersebut tak selalu berlaku sama untuk semua orang. “Seberapa efisien setiap orang tergantung pada ukuran dan bentuk tubuh. Posisi seperti apa yang paling aerodinamis bagi para pembalap elit tak bisa diseragamkan. Tak bisa juga dikatakan bahwa semakin kecil ukuran tubuh, maka akan lebih cepat. Meskipun kecil, namun bentuk tubuh juga tetap berpengaruh.”

Juga perlu dicatat bahwa pada saat posisi duduk seperti Chris Froome itu, kaki kebanyakan berada dalam keadaan diam, tak mengayuh pedal, yang tak terlalu bagus untuk mencegah pembentukan asam laktat yang berlebih. “Turunan panjang biasanya ada setelah tanjakan yang panjang, dan duduk tanpa menggerakkan kaki bisa membuat kaki ‘meledak’ karena asam laktat yang terbentuk jauh lebih banyak daripada saat kaki digerakkan untuk mengayuh,” ujar Ingmar Jungnickel.

“Menekuk lengan, kaki dan merendahkan posisi kepala memang akan membuat laju lebih cepat,” ujar Ingmar. “Namun pada sepeda balap, yang menggunakan dropbar, kadang saat tangan merengkuh bagian drop, akan membuat tangan menjadi lurus, dan hal itu akan memperlambat laju. Menundukkan kepala dan memakai helm aero memang akan membantu, tapi tetap saja harus melihat jalan yang ada di depan ‘kan.”

Chris Yu setuju bahwa bagi pesepeda biasa atau cycle enthusiast, posisi merendahkan badan dan tangan memegang bagian drop adalah yang paling menguntungkan. “Lebih konsisten, karena tubuh bagian atas lebih jarang bergerak dan berpindah posisi. Dan jika memang tak sedang memerlukan pengereman, tangan bisa memegang bagian tengah, yang menggabungkan antara stem dan handlebar. Dengan cara itulah bentuk ‘silinder’ bisa dipecah.”

(diolah dari www.bicycling.com)