Vuelta a Espana : Tejay van Garderen yang Keren

Tejay van Garderen (via Tim de Waele / TDWsport.com)

Semula, tak mengejutkan saat Tejay van Garderen alami kecelakaan di etape ke-6 Vuelta a Espana tahun ini. van Garderen (29 tahun) memenuhi keinginannya sendiri untuk ikut berlaga di Vuelta, dan memang punya bekal kaki yang kuat untuk menantang para pembalap favorit. Saat Alberto Contador dan Chris Froome bersaing ketat dan menyeruak maju, Tejay ada tak jauh dari mereka. Bagi pecinta balap sepeda yang menyukai pembalap ‘kuda hitam’, harapan di pundak Tejay begitu besar. Mampukah dia mengakhiri Vuelta kali ini dengan berada di podium?

Bagi banyak pecinta balap sepeda di Amerika Serikat, negara asal Tejay, Vuelta kali ini sangat bersejarah. Saat harapan begitu tinggi untuk bisa bersaing dengan para favorit juara, bintang keberuntungan Tejay sedikit memudar, dia mengalami apa yang disebut ‘Satu Hari yang Buruk’. Dia sakit dan mengalami hipotermia. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.

Namun sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Tejay memilih untuk kembali mengendarai sepedanya, dan mulai mengayuh dengan penuh tenaga. Dia pun berjuang keras.

Tejay van Garderen mulai mengejar dengan penuh tenaga, seperti mesin diesel, dan setelah beberapa menit, selisih waktu dengan pembalap yang bersaing ketat di general classification (yang tak mengalami kecelakaan) semakin menipis. Beberapa saat dia berhenti untuk mengganti sepedanya, lalu dia melanjutkan untuk mengejar. Rombongan pembalap yang bersaing untuk meraih posisi di general classification mencoba memisahkan diri. Dan kemudian, Tejay terjatuh lagi, dan tentu saja tampak kesakitan. Namun dengan segera Tejay bangkit dan kembali mengejar.

Hingga di garis finish, selisih waktu yang dicapai Tejay hanya 17 detik di belakang rombongan pembalap terdepan. Dua kali terjatuh, sekali mengganti sepeda, dan hanya selisih 17 detik. Dalam kondisi seperti yang dialaminya, capaian yang dilakukan Tejay serupa kemenangan yang luar biasa.

Dalam beberapa tahun terakhir, mungkin benar atau salah, Tejay terkenal sebagai pembalap yang lembut, tak terlalu tangguh dan tak tahan menghadapi momen yang kurang menguntungkan. Namun Tejay di saat ini adalah persona yang berbeda…

Dan memang benar, Tejay sering dihinggapi momen yang kurang menguntungkan baginya, mungkin kaki yang terlalu lelah atau jatuh sakit. Dan momen buruk yang dialaminya tak lantas kemudian membuatnya tampak heroik. Pecinta balap sepeda mungkin akan lebih menganggap heroik pembalap semacam Jean Christophe Peraud, Laurens ten Dam, atau Johnny Hoogerland, yang meskipun jerseynya sobek dan beberapa bagian tubuh luka berdarah-darah, namun masih tetap melanjutkan balapan hingga akhir.

Tejay van Garderen, tak sedikit pun jerseynya sobek, atau luka, atau bahkan berdarah. Tak ada senyuman kemenangan atau meringis karena kesakitan. Dia hanya kelihatan lelah, lemas atau sedih, atau kombinasi dari ketiganya. Penikmat balapan Vuelta kali ini tak pernah melihatnya kesakitan, pun dengan para fotografer yang mengabadikan momen yang dialaminya.

Hal itu yang membuat penampilan Tejay di hari Kamis kemarin sangat berbeda. Di kecelakaan yang pertama, dia tampak terjatuh dengan keras. “Jalannya bergelombang dan sepertinya aku membentur sesuatu, dan tanganku terlepas dari handlebar,” ujar Tejay melalui rekaman audio yang beredar di media centre.

Dan memang kecelakaan yang pertama itu tampak kacau. Carlos Betancur harus meninggalkan arena balap, setelah terjatuh di momen yang sama dengan Tejay.

Kecelakaan kedua yang dialami Tejay juga tak kalah kerasnya. Bagi sebagian besar pembalap, mereka mungkin akan mengawalinya dengan kayuhan ringan dan santai, dan memilih membalap dengan aman, dengan tujuan tetap mencapai garis finish. Namun lain dengan Tejay hari itu.

“Saat sebuah kecelakaan terlalu membebani pikiran, dalam tiga minggu lomba mungkin pikiran akan dipenuhi dengan hal itu dan prestasi tak bisa diraih. Lebih baik segera menyingkirkan pikiran buruk itu dan mencoba mengubahnya menjadi hari yang baik,” ujar Tejay.

Etape-etape berat segera menanti. Banyak etape yang memiliki rute tanjakan, termasuk tanjakan yang paling menakutkan, Angliru.

Tejay mungkin saja kesakitan setelah alami kecelakaan itu, namun kegigihannya membuatnya mau terus berjuang dan bersaing…

(diolah dari www.velonews.com)