Benarkah Arang Dapat Memicu Kanker?

Sate ambal (via catatanmasak.com).

Artikel ini disadur dari NationalGeographic.co.id, dengan beberapa perubahan.

Hingga saat ini, banyak masyarakat Indonesia yang percaya bahwa arang yang digunakan untuk membakar makanan dapat memicu kanker. Benarkah demikian?

—– —– —– —– —–

Pesepeda di Yogyakarta atau sekitar Purworejo dan Kebumen pasti tahu daerah Ambal, sebuah kecamatan di Kebumen yang terkenal dengan sate Ambal-nya. Bersepeda melewati Jalur Selatan atau Jalan Daendels kurang lengkap rasanya jika tak mampir makan siang di salah satu warung yang menjajakan sate ambal.

Ya, sate adalah salah satu makanan favorit orang Indonesia. Sate ambal jadi salah satu menu yang terkenal di sepanjang Jalan Daendels. Disebut sebagai makanan favorit tentu saja memiliki rasa yang lezat. Namun, perlukah kita mengurungkan niat atau sedikit ragu untuk menyantap daging ayam yang ditusuk dan dibakar agar tidak terkena kanker?

Hubungan arang dan kanker adalah salah satu mitos yang dibahas dalam acara konferensi pers Betadine Retro Run 2017 yang diadakan oleh Mundipharma, Betadine dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) di Jakarta, Rabu (24/08).

Topik tersebut sengaja dipilih karena kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kanker dirasa masih urang. Mada Shinta Dewi, Country Manager OT Mundipharma Healthcare Indonesia, mengatakan bahwa kanker dalam 10 tahun terakhir meningkat drastis, dan jika hanya fokus pada pengobatan, biayanya tentu sangat besar.

“Jadi, kalau kita melihat program pemerintah saat ini, fokusnya adalah bagaimana mengedukasi masyarakat supaya insiden ini menurun. Kalau biacar jantung dan hipertensi, masyarakat sudah cukup sadar cara pencegahannya, sedangkan kanker masih banyak mitos-mitos yang perlu diklarifikasi,” ujarnya.

Dalam acara tersebut, Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, selaku Ketua YKI dan Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) mendisskusikan dan mementahkan beberapa mitos tentang kanker yang seringkali menyesatkan masyarakat.

1. Arang
Hingga saat ini, masih banyak masyarakat Indonesia yang percaya bahwa arang yang digunakan untuk membakar makanan dapat memicu kanker. Namun menurut Prof. Aru, yang membuat kanker bukanlah arangnya, melainkan daging merahnya.

Ketika daging merah dipanaskan pada suhu tinggi, timbul zat karsinogen amina heterosiklik atau HCA. Namun, hal ini hanya berlaku pada daging merah saja, dan ayam atau ikan tidak masalah jika dibakar.

Selain daging merah yang dibakar, daging yang diproses, seperti sosis ayam, salami dan bacon, juga bisa menyebabkan kanker.

2. MSG
Selain arang, masyarakat juga masih terjebak dengan mitos bahwa monosodium glutamat atau sering disingkat MSG dapat memicu kanker. Padahal, penelitian, seperti yang dilakukan oleh Food Standards Australia – New Zealand, telah membuktikan bahwa mitos tersebut tidak benar.

“Insitute of Cancer juga pernah mencobakan MSG pada tikus, dan terbukti, bahwa MSG tidak menyebabkan kanker,” kata Prof. Aru.

Dia melanjutkan, tetapi MSG memang tidak bagus untuk kesehatan karena dapat merusak jaringan tubuh, terutama jaringan pankreas yang memproduksi insulin.

3. Super food
Di era modern ini kita mengenal istilah super food untuk teh hijau, buah beri, akar bit, manggis dan makanan-makanan lainnya yang dipercaya dapat mencegah kanker karena mengandung antioksidan. Namun, Prof. Aru berkata bahwa pemahaman ini salah besar.

“Antioksidan tidak mencegah kanker secara langsung, tetapi menangkal makanan lain yang ada oksidannya, seperti minyak gorengan. Namun sekali lagi, mangga dan stroberi itu bukan obat buat kanker,” katanya.

Akan tetapi, kita tetap bisa mengonsumsi makanan-makanan tersebut sebagai bagian dari pola makan dan hidup sehat untuk mencegah kanker.

Tiga komponen utama hidup sehat adalah menjaga berat badan ideal, olahraga teratur dan mengikuti pola makan sehat. Jika bisa mengikuti panduan tersebut, risiko terkena kanker bisa turun hingga 35 persen atau bahkan 59 persen pada kasus kanker tertentu. Penurunan risiko ini bahkan bisa menjadi lebih besar jika menghindari alkohol yang berlebihan dan tidak merokok.