Akhir Sebuah Era : Alberto Contador Finish di Angliru dengan Elegan

Alberto Contador adalah satu-satunya pembalap sepeda yang bisa dua kali finish sebagai pemenang etape di Alto de L'Angliru (via Tim de Waele).

Alberto Contador memang benar-benar menyimpan penampilan terbaiknya di saat-saat yang terakhir, mendapatkan kemenangan yang sangat berarti dengan dipenuhi drama dan emosi…

Semangat ‘El Pistolero’ yang tak pernah padam membuatnya merengkuh kemenangan etape yang finish di Angliru dengan emosional. Kemenangan etape ke-68 dalam karirnya, dan yang terakhir, membuatnya jadi ‘salam perpisahan’ yang akan selalu dikenang.

“Tak ada pikiran lain untuk membuat salam perpisahan yang lebih indah daripada cara ini,” ujar Alberto Contador. “Untuk bisa memenangi Angliru, di tanjakan terakhir, di akhir karirku, aku berusaha sekuat tenaga dan memberikan segalanya yang aku bisa lakukan.”

Alberto memang selalu berusaha sekuat tenaganya. Di satu hari menjelang hari terakhir Vuelta 2017, dia seperti mendapatkan gear dan semangat tambahan. Semangat yang menggebu-gebu ntuk menyelesaikan etape pegunungan terakhir dalam 15 tahun karirnya di dunia balap sepeda profesional.

Jika ingin dibandingkan, Alberto tampil seperti seorang matador yang maju menghadapi banteng dengan penuh kebanggaan dan kepercayaan diri.

“Aku tahu aku harus memenangi etape ini, dan tentu saja hal itu sangat sulit,” ujar Alberto. “Di etape-etape awal, sedikit membuatku frustasi, karena yang terjadi tak seperti yang diharapkan awalnya. Namun dengan penampilan yang semakin lama membaik, aku jelas ingin memenangi etape ini.”

Dengan tetap percaya dengan pepatah “di mana ada kemauan, di situ ada jalan”, penampilan Alberto Contador tak sia-sia. Dia bisa memperoleh jarak hingga sekitar satu menit di dengan rombongan besar pembalap, dan melewati ‘lorong’ para fans yang berteriak menyemangatinya di beberapa kilometer menjelang garis finish. Itu adalah hal yang benar-benar diinginkan Alberto.

Pembalap dan tim terkuat saat ini, Chris Froome dan Team Sky, kesulitan untuk ‘mengatasi’ penampilan Alberto Contador di etape ini. “Kami melakukan semuanya untuk bisa mengejar Alberto,” ujar Chris Froome, yang finish di posisi ketiga di belakang rekan setimnya, Wout Poels. “Dia sangat kuat hari ini. Selamat untuk Alberto, bisa mengakhiri karirnya dengan kemenangan yang indah.”

Selain kegigihannya dalam menempuh tanjakan Angliru, keberanian Alberto juga teruji di beberapa turunan di etape ini. Di turunan dekat dengan Alto de Cordal, Alberto berani melepaskan laju sepedanya sedikit lebih kencang, hingga meninggalkan rombongan besar 40 detik dibelakangnya. Chris Froome sendiri tampak sedikit kesulitan saat melewati turunan tersebut. “Jarlinson Pantano melewati turunan itu seperti kamikaze, jadi aku tetap berdekatan dengannya.”

Cuaca di hari kemarin memang bisa dianggap ekstrem. Biasanya, di sekitar pegunungan dan menjelang garis finish selalu tertutup kabut tebal dan tak jarang juga turun hujan. Namun hari itu mungkin memang menjadi hari yang ditakdirkan bagi Alberto Contador untuk menyambut kemenangannya. Saat Alberto melewati 12,5 km terakhir dengan jalanan yang mulai menanjak menuju puncak Angliru, cuaca seketika cerah, seolah Tuhan pun tak ingin terlewat menyaksikan momen kemenangan Alberto Contador.

‘El Pistolero’ asal Spanyol berhasil menuntaskan tanjakan paling mengerikan di Vuelta dengan kemenangan. Kemenangan yang terakhir dalam karirnya. Seperti yang dilakukan Fabian Cancellara setelah mendapatkan medali emas Olimpiade Rio 2016 dan memutuskan pensiun.

Bisa saja Alberto Contador memutuskan untuk membalap setahun lagi, apalagi dengan penampilan bagusnya di akhir Vuelta ini. Dia kehilangan banyak waktu di etape ke-3, namun mampu memperbaikinya dan keras berjuang, hingga peringkatnya bisa meroket, dari peringkat ke-30 menjadi peringkat 4 di general classification.

“Dunia balap sepeda akan kehilangan sosoknya,” ujar Dirk Demol, direktur olahraga Trek – Segafredo. “Dunia balap sepeda telah berubah. Saat ini jarang ada pembalap yang ingin menyerang karena kemauannya sendiri. Alberto adalah salah satu tipe pembalap yang sudah mulai jarang.”

(diolah dari www.velonews.com)