Mengubah Menu Makan Dapat Mencegah Penyakit Pencernaan dan Menghilangkan Depresi

Ilustrasi via www.zak.com.

Di sepanjang usia 20an tahunnya, Lara Jezeph bergelut dengan depresi. “Aku menemui tiga psikiater berbeda dan mencoba dua anti-depresan, dan tak menghasilkan apapun,” katanya.

Kecewa dengan hasil yang didapatkan dari terapi konvensional, dia mulai mencoba kebiasaan yang lebih sehat, terutama dengan makanannya, yang terbiasa dengan makanan olahan.

“Aku memberikan perhatian lebih pada apa yang kurasakan setelah makan junk food dengan makan makanan yang berimbang dan lebih bergizi,” ujarnya. Dia juga membiasakan untuk berolahraga dan mengurangi konsumsi alkohol. “Aku mulai lebih perhatian pada diriku sendiri.”

Meskipun Lara Jezeph menyadari adanya perubahan yang membaik pada mood dan kebugarannya, dia membutuhkan waktu lama untuk menemukan kombinasi makanan yang tepat, yang nyaman bagi perutnya, sehingga tak menyebabkan perutnya kembung.

“Aku mencoba beragam pola diet yang berbeda,” katanya. Awalnya dia berfokus pada makanan rendah kalori dan dikhususkan untuk menurunkan berat badan; dan dia tak pernah memerhatikan bahan-bahan komposisinya; dia merasa lebih lega setelah mengurangi konsumsi makanan olahan yang siap saji. Dia mulai beralih ke makanan yang masih alami dan belum terproses, seperti singkong dan jahe, yang ternyata juga bisa mengatasi masalah pencernaannya.

“Dari pengalamanku sendiri, aku percaya bahwa kondisi pencernaan akan memengaruhi mood kita.” Dia terinspirasi dari keberhasilan transformasinya dan memutuskan untuk menjadi konsultan kesehatan dan diet pribadi.

Apakah para ahli setuju?
Dulu, ide bahwa makanan yang dimakan akan memengaruhi kesehatan mental adalah suatu hal yang absurd. Kini, tidak lagi…

“Kita tahu dari beberapa penelitian yang dilakukan pada tikus dan manusia, bahwa ada hubungan antara komposisi mikrobia di dalam saluran pencernaan dengan tingkat depresi,” ujar Emeran Mayer, MD., Ph.D., profesor kesehatan, fisiologi dan kelainan saluran pencernaan di UCLA, yang juga pengarang buku The Mind-Gut Connection.

Dalam penelitian di tahun 2014 yang diterbitkan di Journal of Neuroscience, Dr. Emeran Mayer menyebut penemuan terbaru yang melibatkan mikrobia di dalam tubuh manusia yang memengaruhi kesehatan mental, dan hal tersebut mengubah paradigma di dunia kesehatan.

Meskipun ada banyak detail yang masih harus diteliti, Dr. Mayer menyatakan ‘peradangan’ yang disebabkan oleh makanan berkualitas rendah dapat berkontribusi pada perubahan di otak yang tidak sehat dan kemungkinan mengalami penyakit. Dia menyebut depresi, juga rasa gelisah dan kemungkinan autisme.

Dia sangat berhati-hati saat mengatakannya, berdasarkan bukti-bukti yang terbaru, kelainan dan penyakit mental, termasuk depresi, secara tidak langsung, bermula dari otak. “Sebagian besar orang yang mengalami depresi, diawali dari otak,” ujarnya.

Meskipun Dr. Mayer dan peneliti lain sedang meneliti lebih lanjut tentang sebab dan akibatnya, namun dia mengatakan ada bukti yang bagus bahwa mengubah pola makan dan makanan yang dimakan dapat meningkatkan kesehatan mental.

Apa yang ditunjukkan oleh penelitian?
Penelitian di awal 2017 yang dimuat di BMC Medicine membagi 67 orang yang mengalami depresi ringan ke dalam dua kelompok. Satu kelompok kemudian mengkonsumsi makanan dengan pola Mediteranean diet, sedangkan kelompok lainnya tetap dengan pola makan yang biasa mereka lakukan.

Setelah 12 minggu, 32 persen orang yang melakukan Mediteranean diet merasa lebih lega dari depresinya, sedangkan di kelompok kontrol, hanya 8 persen yang merasa lebih baik.

Penelitian yang telah dilakukan mungkin hanya ‘menyentuh permukaan masalah’, karena masih banyak hal yang belum diketahui. Namun jelas bahwa kesehatan saluran pencernaan berperan baik pada kesehatan mental.

Apa yang sebaiknya dimakan?
“Sayuran dan buah-buahan yang berwarna-warni, rendah gula dan mengurangi lemak hewani,” ujarnya. Mediteranean diet memiliki komponen itu, seperti minyak zaitun dan kacang-kacangan, serta meningkatkan anti-peradangan.

Juga, mikrobia baik di dalam saluran pencernaan juga dapat mencerna serat tumbuhan yang sulit dicerna. Lara Jezeph juga setuju bahwa makan makanan yang ‘berwarna-warni’ mencerminkan makanan yang sehat.

“Dengan makan makanan yang berwarna-warni seperti pelangi, dapat meningkatkan keragaman bakteri baik di dalam saluran pencernaan,” ujar Lara.

(diolah dari www.bicycling.com)