Alberto Contador : Waktu yang Tepat untuk Pensiun

Alberto Contador, Nir Barkat, Sylvan Adams dan Ivan Basso (via RCS Sport).

Meskipun hanya tampil di tiga edisi saja di sepanjang karir bersepeda profesionalnya, Alberto Contador memiliki hubungan yang spesial dengan ajang Giro d’Italia. Adalah ajang Giro di tahun 2008, yang memberikannya ‘jalan kehidupan’, setelah timnya saat itu, Astana, dilarang oleh penyelenggara Tour de France.

Alberto Contador disambut kembali dengan hangat di tahun 2011, meskipun faktanya pada saat itu dia sedang berurusan dengan Court of Arbitration for Sport (CAS), dan kenyataannya gagal, mengenai protesnya terhadap tes doping yang dinyatakan positif mengandung Clenbuterol di tahun balap sebelumnya. Di tahun 2015, Alberto tampil untuk ketiga kalinya di Giro dan tahun itu adalah penampilan terakhirnya, dan berusaha untu meraih kemenangan ketiganya pula, meskipun akhirnya hanya dua kemenangan yang tercatat di buku rekor.

Secara mengejutkan, Alberto Contador tampil di satu etape di Waldorf Astoria di Yerusalem pada hari Senin yang lalu untuk mempromosikan Grande Partenza, etape pembuka Giro d’Italia 2018 yang memang akan dimulai di Israel.

“Menurutku, tak masalah jika diawali di sini (Israel),” kata Alberto. “Aku pernah di Israel di tahun 2012 untuk mengikuti training camp, dan dukungan dari warga setempat sangat luar biasa. Sekarang, keadaan di dunia memang ‘agak gila’, namun satu hal yang perlu dicatat, Giro adalah event dunia, bukan hanya satu negara. Aku yakin para pembalap akan dengan senang hati memulai kegiatan bersepedanya dari sini, dan tak akan memikirkan ‘hal-hal gila’ itu.”

RCS Sport sepertinya setuju dengan komentar Alberto saat menanggapi pertanyaan para wartawan, yang juga menyarankan agar Chris froome mengikuti Giro tahun depan dan menjadikannya target utama, agar gelar juaranya lebih komplet.

“Seandainya jadi Chris Froome, aku akan ikut Giro tahun depan, namun tentu saja keputusan tetap berada di tangannya,” ujar Alberto. “Dia bisa ikut. Dia telah menghabiskan banyak tenaga, baik fisik maupun mental, selama beberapa bulan terakhir ini, namun dia punya orang-orang yang hebat di sekelilingnya, dan membuatnya bisa melaju cepat di sesi time trial atau melesat meninggalkan rivalnya di beberapa kilometer terakhir saat di mountain stages. Jadi, jika jadi Chris Froome, aku akan membuat Giro target utama di tahun depan, apalagi saat garis start dilakukan di luar Italia, hal yang tidak biasanya terjadi.”

“Aku tak merasa seperti bernostalgia. Aku sangat senang bisa mengakhiri karir dengan memenangi etape di puncak Angliru. Waktu yang tepat untuk pensiun dari dunia balap profesional ini,” katanya. “Aku memutuskannya saat di Tour de France, saat sempat mengalami kecelakaan, dan kupikir waktu terbaik untuk berpisah adalah saat aku berada di kondisi yang prima. Di Vuelta kemarin, setiap hari terasa seperti pesta. Bulan terakhir di dunia profesionalku sangatlah menyenangkan. Tak ada yang lebih baik dari itu.”

Alberto menjelaskan bahwa kegiatannya setelah pensiun dari balap sepeda profesional akan terbagi antara mengurus pengembangan skuad Fundacion Contador, yang mengakuisisi tim milik Trek – Segafredo, yang akan ‘naik kelas’ ke level Continental, dan sebagai duta untuk kampanye mencegah penyakit stroke.

“Banyak orang tidak tahu gejalanya, dan sangat penting untuk mengetahui ada tidaknya penyakit tersebut di waktu yang tepat,” ujar Alberto, yang sempat mengalami serangan stroke di Tour of Asturias di tahun 2004.

(diolah dari www.cyclingnews.com)