Michal Kwiatkowski : Bisa Menang, Meskipun Hujan

Michal Kwiatkowski (via Tim de Waele / TDWsport.com)

Michal Kwiatkowski dianggap sebagai underdog dalam balapan di hari Minggu nanti, mungkin karena dia berasal bukan dari negara yang memimpin perolehan medali sementara, dan tidak didukung oleh pembalap lain yang komplet sembilan orang. Namun tetap saja pembalap Polandia itu tak boleh diremehkan. Dia memenangi gelar dunia di Ponferrada 2014, dengan ‘serangan tunggal’, gebrakan yang tak diikuti oleh rekan setimnya di dekatnya. Setelah itu, dia menunjukkan talentanya dengan memenangi Amstel Gold Race, E3 Harelbeke, dan di tahun ini dia memenangi Strade Bianche, Milan – San Remo dan Clasica San Sebastian.

Di Team Sky, dia membantu Chris Froome meraih gelar Tour de France, dan Michal juga juara nasional Polandia untuk disiplin time trial. Pengalaman dan talentanya membuatnya jadi pesaing yang tangguh dan siap merebut jersey rainbow jika memang memungkinkan untuknya.

Michal menjadi bagian dari skuad Team Sky yang meraih posisi ketiga di perlombaan team time trial hari Minggu yang lalu. Dia tidak membalap di hari Rabu, namun tetap tinggal di Bergen untuk berlatih dan mempelajari rute yang akan dilewati di kejuaraan road race di hari Minggu besok.

Pada tahun 2014, saat itu turun hujan di rute yang dilewati untuk sesi road race, dan Michal ‘menyerang’ sebelum memasuki tanjakan terakhir untuk membuat break dan dengan berani mampu ‘menyelesaikan’ balapan itu sendirian, tanpa didukung rekan setimnya di dekatnya. Dia berhasil mengalahkan Simon Gerrans (Australia) dan Alejandro Valverde (Spanyol) untuk meraih gelar juara dunia di usia yang masih 24 tahun.

“Bagiku, ini adalah ajang yang paling penting di tahun ini, juga karena aku adalah mantan juara dunia,” ujarnya pada CyclingNews, dengan bangga bisa mewakili Polandia dan berharap keberuntungannya seperti di Ponferrada 2014.

“Aku akan sangat senang jika besok bisa menjadi balapan dengan persaingan yang ketat antara Peter Sagan, Greg van Avermaet, Philippe Gilbert, aku sendiri dan pembalap lainnya.”

“Aku tahu para sprinter lebih menginginkan balapan yang kompak dan akan berakhir dalam rombongan besar, namun tentu saja hal itu akan sulit diwujudkan, karena ini adalah Kejuaraan Dunia, dan kita mewakili negara, bukan tim profesional di mana kita biasanya membalap. Kekompakan dan kekuatan tim pasti juga akan berbeda.”

“Aku yakin tim Belgia akan membagi dua rombongan pembalapnya, sementara tim Prancis akan mengandalkan Julian Alaphilippe. Tim Italia memiliki kedalaman tim yang bagus, sementara Peter Sagan, tak usah ditanyakan. Kadang dia bisa memenangi suatu balapan dengan caranya sendiri.”

Mental yang kuat menghadapi terpaan cuaca
Di tahun 2014 Polandia mempunyai skuad yang komplet 9 orang untuk mendukung Michal Kwiatkowski. Namun dengan ranking negara yang kurang bagus, Michal hanya didukung oleh lima pembalap lain untuk menghadapi rute berjarak 267 km dan 11 sirkuit di sekitar Bergen.

“Kami tak punya skuad yang komplet sembilan orang seperti negara besar lainnya namun kami akan beradaptasi dan telah memiliki pengalaman dan kekuatan, dan berharap kami bisa ikut bersaing dengan ketat hingga rampungnya ajang nanti,” jelas Michal.

Michal Kwiatkowski terpaksa berlatih dalam guyuran hujan di pertengahan minggu ini. Ramalan cuaca memprediksi bahwa balapan di hari Minggu akan cerah, namun Michal siap untuk berlaga di kondisi cuaca apapun. Dan jika hujan, maka akan menciptakan persaingan antar pembalap yang lebih selektif.

“Hujan akan mengubah kondisi balapan secara drastis. Jarak sejauh 267 sudah menjadi tantangan, dan hujan adalah tantangan tersendiri,” tegasnya.

“Beberapa pembalap akan mengalami kelelahan mental, dan akan sulit untuk merampungkan balapan dalam satu rombongan utuh. Rombongan akan lebih terpisah, dan saat finish hanya tersisa dari rombongan-rombongan kecil.”

“Saat di Ponferrada memang hujan, dan kami bisa mengontrolnya dengan baik. Tentu saja, jika aku merasa mampu, aku pasti bisa memenanginya lagi, bahkan saat hujan. Saat hujan, efek hujan itu akan lebih melemahkan para rival. Berharap saja besok adalah hari yang bagus buatku…”

(diolah dari www.cyclingnews.com)